Tidur dulu, lah!

23 Dec 2008

“Bag, mau ke Jakarta?” teriakku masih setengah mimpi. Dengan rasa malas, aku mendengar kesibukan Om Bag untuk pergi ke tempat customer, mengejar bis jam 8 pagi.

“Iya”, jawabnya.

“Bareng Iyor aja, katanya mau ke Jakarta jam 8. Aden juga. Aku juga sih”, kataku sambil membereskan kasur dan selimut.

“Oh gitu, ya udah. Tapi kira-kira bisa tepat waktu gak ya? Riskan juga nih.” kata Om Bag.

“Perginya sama siapa?” tanya Bang Napi.

“Pak Togar kayaknya.”, jawabku.

“Oh, pak Togar sih tepat waktu. Yang jadi masalah si Iyor.”

“Iyor juga rasanya cukup disiplin kok. Cuma dia pergi bareng Gita”. kataku

“Wah, itu dia. Kalau yang itu harapan tipis”, sahut Aden sambil tertawa. Sebagai sahabat akrab, dia tahu persis betapa sulit gadis yang satu itu untuk bangun pagi.

Akhirnya memang kami harus naik bis, karena ternyata Iyor pergi ke Jakarta siang, sekitar jam 1. Aku, Om Bag, dan Aden berangkat ke Jakarta dengan bis yang sama, meskipun tujuan kami beda-beda. Dilihat dari tujuannya, seharusnya Aden turun duluan di Cawang karena tempat yang didatangi di daerah Jaktim, sementara Om Bag di Jakpus, aku di Jakut.

Sampai Cawang, Aden masih terlelap. Kutepuk-tepuk pundaknya dengan novel tebal yang sedang populer, dia terbangun sebentar.

“Gak turun di Cawang?”

“Gak, di BlokM aja, masih ngantuk. Tidur dulu, lah!” jawabnya enteng.

Lah, kalau dari Blok M akan lebih jauh lagi, karena berarti dia bolak-balik. Tapi tampaknya dia gak peduli, dia melanjutkan tidurnya. Entah jam berapa dia tidur semalam, dan apa yang dikerjakannya sampai larut malam itu.

Kemarin sempat baca kolom opini di suratkabar, yang menyebutkan bahwa di negeri ini, ketaatan akan hukum (termasuk disiplin), seringkali dikompromikan atas nama keadilan. Seperti kasus Aden ini. Dia diminta datang pagi, dan seharusnya dia gak perlu terlambat kalau turun di Cawang dan naik taksi ke tempat customer. Tapi dia memilih untuk tetap tidur, yang berarti akan lebih lambat setengah hingga 1 jam dari seharusnya. Tapi dia mengkompromikan hal itu, mungkin dengan alasan “toh semalam aku dah begadang ampe pagi nyelesain kerjaan, wajar donk kalau sekarang telat dikit buat istirahat”.

Hmm … serba salah. Bagi beberapa orang, ketidakdisiplinan waktu adalah korupsi. Tapi kalau waktu yang ada sudah digunakan untuk lembur, kadang bisa dimanfaatkan sebagai dalih untuk tidak disiplin, biar adil lah. Aku sendiripun sering seperti itu.


TAGS Tidur Bangun Pagi


-

Author

Search

Recent Post

Komentar Terbaru