Rusaknya Rasa Aman

19 Dec 2008

Hampir lima tahun aku tinggal di kantor, selama itu pula aku merasa keadaan kantor (dan kompleks secara umum) aman. Aku gak kuatir meletakkan barang apapun di meja atau dimanapun, - dompet, duit, handphone, kamera, laptop, dsb -, dan memang belum pernah merasa ada kehilangan yang berarti. Emang sih, beberapa kali duit receh lenyap, dan pernah sekali duit ilang, tapi tidak membuatku merasa gak aman.

Bahkan orang yang baru bergabung di kantorpun terbiasa dengan suasana tersebut, suasana aman dan saling percaya, yang kadang malah jadi teledor. Beberapa orang sering meletakkan barang sembarangan, dan ribut ketika dia butuh barang itu karena lupa naruh dimana. Tapi toh akhirnya ketemu juga.

Namun hari itu, rasa aman itu rusak, hancur gara-gara ulah supir gak bertanggung jawab. Bose, yang beberapa tahun lalu sudah sempat dikeluarkan karena tindakan tidak terpuji, sekarang benar-benar merusakkan suasana di kantor. Padahal dulu, seingatku, meskipun dia suka tidak jujur, tapi rasanya tidak pernah nyolong atau menyembunyikan barang teman-temannya di kantor.

Berawal dari beberapa hari lalu, waktu Bose mulai kehabisan duit. Dia pinjam sana-sini, termasuk aku dan Bang Napi, dengan berbagai alasan. Intinya, duitnya benar-benar habis buat bayar kos dan urusan lain. Yang jelas, bagi kami, dia termasuk tidak bisa mengelola kekuangan dengan baik, apalagi gaji yang dia terima sangat kecil, tapi dia tetap tidak bisa mengelola yang kecil itu. Akibatnya, dengan alasan tidak punya duit, sejak hari Senin hingga Kamis dia tidak masuk kerja.

Pagi ini, tiba-tiba dia nongol pagi-pagi. Aku terbangun kaget waktu dia masuk ruangan membawa kain pel.

“Pagi Mas”, sapanya ramah sembil cengengesan seperti biasa.

Wah, kupikir anak ini sudah berubah, dah niat kerja. Akupun segera beranjak membereskan kasur dan mulai mandi, selanjutnya menyeterika beberapa baju. Setelah semua ritual menjelang kerja selesai, aku melangkah ke mejaku tanpa curiga apa-apa. Aku ambil jam tangan, kunci, dompet serta beberapa coin yang tergelatak di meja. Tapi aku gak menemukan handphone!

Aku coba ingat-ingat di mana terakhir aku meletakkan handphoneku. Aku ingat benar, tadi malam aku masih sms-an sekitar pukul 10, waktu itu aku masih nonton film Cellular di tivi. Setelah sms terakhir waktu aku nonton tivi tersebut, aku ingat betul kalau aku gak pakai handphone. Selanjutnya aku beranjak tidur, dan handphone masih ada di mejaku, malah mungkin aku sempat merapikan mejaku itu, dengan handphone di atasnya, bersama dengan jam tangan dan dompetku.

Segera aku melangkah ke bawah, bertanya ke Renaldy.

“Ren, Bose ada dimana?”

“Kenapa Mas?”, tanyanya kurang jelas mendengar omonganku. Saat itu dia lagi ngepel lantai 1.

“Bose kemana?” aku ulangi pertanyaanku.

“Wah, gak tau. Tadi katanya mau ngepel, kok langsung gak ada. Itu ember masih ada di situ, makanya saya ngelanjutin aja ngepelnya. Ada apa?”

“Handphoneku ilang. Kayaknya kali ini diambil Bose. Seperti kasus duitku yang 100 ribu lenyap dari dompet itu. Soalnya dulu juga waktu kejadian itu dia langsung menghilang”.

“Wah, mungkin juga. Handphone Aden juga gak ada”, katanya.

Ternyata benar, handphoneku lenyap termasuk handphone Aden. Handphone Aden sendiri diletakkan di bawah, berdampingan dengan punya Renaldy dan Marta, sedang di charge. Tapi cuma punya Aden yang hilang.

Selanjutnya semua karyawan dikumpulkan untuk diumumkan mengenai hal ini, karena kondisi sudah tidak aman lagi. DI situ Marta cerita kalau duit di dompetnya juga hilang, sekitar 100 ribu. Sayang sekali.

Tindakan Bose saat ini benar-benar konyol. Meski tidak ada barang bukti apapun, tapi apa yang dilakukan sangat mencolok. Kedatangan yang tiba-tiba, pergi tiba-tiba dan disertai dengan hilangnya barang-barang. Seluruh dugaan mengarah ke dia, bisa kubilang 99.9% pasti dia pencurinya. Ah, sayang. Padahal, meskipun kami tidak tahu alamat kos nya, tapi kami tahu persis alamat orang tuanya. Dan dengan kondisi seperti ini, sebenarnya selain merusak namanya, juga menutup segala kemungkinan dan peluang bagi dia. Setelah ini, dia langsung dipecat dan sepertinya tidak akan mungkin lagi diterima bekerja di kantor. Sudah 3 kali dia buat kesalahan tapi masih diberi kesempatan lagi, tapi ini sudah keterlaluan.


TAGS kehilangan Handphone Maling


-

Author

Search

Recent Post

Komentar Terbaru