Repotnya Gak Ada Handphone

18 Dec 2008

Saat ini, handphone atau ponsel sudah menjadi barang primer, kebutuhan pokok. Padahal, hingga masa kuliah dulu, aku belum pernah punya handphone. Saat kuliah dulu, handphone bagiku adalah barang mewah, barang tertier, cuma orang-orang mampu yang punya. Makanya, waktu itu, menenteng handphone dan bertelpon atau sms ria adalah satu gengsi tersendiri. Didukung lagi dengan ukuran handphone yang masih gedhe-gedhe dan berat, mantap buat nimpuk anjing liar.

Jangankan handphone, kartu perdana atau pulsa aja tergolong mahal buat ukuran mahasiswa kampung kayak aku. Seingatku dulu, beli kartu perdana bisa mencapai ratusan ribu, padahal jatah bulananku aja cuma 150ribuan, paling banter 300 ribu, itu dah bisa foya-foya. Tapi toh tanpa handphone saat itu, hidup bisa dijalani dengan nyaman, damai dan tentram.

Kalau mau janjian, tinggal tentukan waktu dan tempat, terus tunggu. Gak perlu kelimpungan saat terlambat, toh sudah jadi budaya kalau telat. Paling-paling beri toleransi 30 menit hingga 1 jam, setelah itu, kalau ada telpon rumah, coba manfaatkan telpon umum coin atau ke wartel. Kalau pengen kasih kabar ke kampung, tinggal manfaatkan wartel yang sudah cukup menjamur, meski dengan ongkos yang mahal karena masih dimonopoli.

Tapi sekarang, rasanya sulit hidup tanpa handphone. Terbukti ini dialami Marta, yang beberapa hari terakhir ini kelimpungan gara-gara handphone satu-satunya ngadat akibat gak sengaja kecebur ke air. Gelas yang disangka kosong, dengan santaikan dijadikan tempat handphone, dan baru sadar ketika ada yang muncrat saat handphone itu tenggelam meski gak semua. Beberapa kali handphone masih bisa dipakai meski ogah-ogahan, hingga akhirnya tamat, ngambek sama sekali gak bisa digunakan.

Tentu saja, apalagi bagi wanita, tanpa alat komunikasi praktis merupakan mimpi buruk. Gak bisa curhat, gak bisa memantau kondisi pasangan dan kesulitan bergosip ria dengan teman-teman. Dalam urusan kerja, kesulitan berhubungan langsung dengan customer menjadi masalah tersendiri.

“Marta dah pulang belum?” tanya Aden tadi malam, sehabis membeli makan malam dengan Bajaj pinjaman.

“Ga tahu” jawabku ringan. “Belum ke sini sih”.

Beberapa hari ini memang Marta nginep di kantor untuk mengejar penyelesaian proyek sebelum tahun berganti, karena dia akan mudik cukup lama. Malam ini dia pun berencana lembur di kantor, hanya saja sebelumnya ada keperluan di tempat lain. Tapi sebelum pergi dia sudah berpesan ke Aden, agar menjemput dia sekitar pukul 10 malam di kostnya.

“Emang tadi minta dijemput?” tanyaku.

“Iya, jam sepuluh katanya.” jawab Aden sedikit menggigil. Malam itu hujan rintik-rintik, membuat udara Cikarang yang biasanya panas jadi seperti di Bandung.

“Cuma tadi barusan aku ke sana, ketok-ketok pintu, kata teman kosnya dia belum pulang. Katanya sih jam 10 an.”

“Ya, mungkin belum nyampe, kan belum ada jam 10. Coba aja 15 menit lagi ke sana lagi. Repot juga gak ada handphone, jadi gak bisa konfirmasi jadi atau tidak, atau setidaknya bisa memberi kepastian ada di mana.”

“Iya deh, ntar kesana lagi. Ngangetin badan dulu”, kata Aden sambil ngeloyor ke dapur untuk merokok.

Sekitar jam 10 Aden pergi ke kos Marta, namun segera kembali sendirian. Marta masih belum pulang. Ada sedikit rasa cemas juga di antara kami berdua. Tapi, ah santai aja, pikirku, toh Marta ada pacarnya yang selalu setia antar jemput kapanpun, dan tempatnya juga dekat dengan tempat yang saat ini didatangi.

Hanya saja aku jadi berpikir, mengapa handphone bisa bergeser dari barang mewah menjadi barang primer, kebutuhan pokok. Selain harganya mulai terjangkau, termasuk harga pulsa yang mulai murah akibat persaingan yang cukup ketat dari berbagai provider, kurasa penyebabnya adalah manfaatnya yang luar biasa. Handphone memberi manfaat dalam hal kemudahan dan kecepatan berkomunikasi, yang sangat dibutuhkan manusia sebagai makhluk sosial. Kemudahan dan kenyamanan inilah yang memanjakan manusia, sehingga manusia jadi tergantung, terbiasa menggantungkan diri pada alat komunikasi mobile ini, maka berubahlah handphone menjadi barang primer, wajib ada dan hidup akan terasa hampa tanpanya. Berlebihan memang, meski kadang tidak bisa dipungkiri.


TAGS Handphone Komunikasi


-

Author

Search

Recent Post

Komentar Terbaru