Tandatangan

16 Dec 2008

“Aden, kamu aja yang tanda tangan deh”, kata Marta. Budi mengawasi sambil senyum-senyum.

Tanpa curiga, Aden segera menandatangani bukti pengambilan uang kas, untuk keperluan ke customer besok.

“Nah, ” Marta dan Budi hampir bersamaan berteriak. “Karena dirimu yang tanda tangan, berarti besok dirimu yang buat report.”

Aden hanya tersenyum kecut menyadari bahwa dia telah terjebak, maklumlah orang baru yang belum berpengalaman. Membuat laporan biaya perjalanan adalah hal yang sepele, namun seringkali dianggap merepotkan. Mungkin repot ketika harus mengumpulkan bukti-bukti, tapi sebenarnya yang buat repot adalah ketidakdisiplinan yang didukung oleh ketidaktelitian. Seringkali bukti-bukti yang kecil — tiket parkir, tiket tol, bon makan dsb — terselip entah kemana, sedangkan tanpa itu, laporan perjalanan akan dianggap tidak sah, dan ujung-ujungnya, setiap pengeluaran akan ditanggung sendiri.

Namun seringkali, pengabaikanlah yang membuat pekerjaan membuat laporan itu menjadi berat. Penundaan, mungkin kata yang lebih tepat. Karyawan, khususnya bagian marketing, paling hobi menunda pembuatan laporan perjalanan, malah kadang sampai berbulan-bulan. Mereka paling cepet waktu minta “modal” untuk bepergian, namun giliran ditagih laporan, beribu alasan meluncur, — gak sempat lah, lagi sibuk, masih ngumpulin bon, lagi banyak kerjaan dan berbagai alasan sampah lainnya.

Padahal, andaikan tiap orang belajar menyempatkan diri, nyicil laporan demi laporan, meluangkan waktu 10-15 menit untuk mengingat kembali pengeluaran yang dilakukan hari ini atau kemarin, mungkin tidak perlu ada penundaan (yang parahnya sering disertai kebohongan demi menutupi kemalasan). Memang, tidak semua malas. Tapi yang jelas, membuat laporan bukanlah pekerjaan yang menyenangkan, akibatnya, menyeret pada kemalasan dan penundaan. Aku sendiri sudah mencoba membuat software untuk menyederhanakan pembuatan laporan itu, tapi toh sedikit sekali yang mau menggunakannya.

Entah, gimana lagi caranya memaksa karyawan untuk bisa tertib dalam hal laporan, apalagi yang terkait dengan penggunaan uang.

“Loh, kok cuma tandatangan doank. Uangnya gak diambil?” tanya Budi ke Aden, yang langsung ngeloyor pergi waktu menyadari dirinya sedang dijebak.

“Eh iya, ” kata Aden segera berbalik.

“Ah, Aden sih gak butuh duit. Dimintain tandatangan aja dah bangga dia, terharu karena ada yang mau minta tandatangannya.” celetukku, yang segera dibalas dengan tawa Aden.

“Udah donk, mules nih perut, gara-gara ketawa mulu.”


TAGS Kantor Tandatangan Laporan


-

Author

Search

Recent Post

Komentar Terbaru