Aku, Saya atau Nama

12 Dec 2008

Iwed masuk kantor sambil membawa nasi bungkus, baru saja kembali dari jumatan. Melihat aku dan Marta duduk di ruang tamu, dia tersenyum dan berbasa-basi. “Makan mas, Marta”, sambil mengangkat nasi bungkusnya.

“Ya”, jawabku singkat, dengan senyum sambil tetap membaca koran.

Saat melewati meja Ekusa, Iwed juga menyampaikan basa-basi yang sama. Sesuatu yang tidak diduga olehnya, Ekusa merebut bungkusan itu, dan dengan bercanda bilang “Oh, makasih ya. Nawarin kan?”.

Iwed serba salah. Selama ini dia jarang sekali bercanda, khususnya dengan karyawan wanita. Akhirnya dia cuma tersenyum dan merelakan nasi bungkusnya direbut Ekusa, terus melangkah pergi ke lantai atas. Nah lho, giliran Ekusa yang serba salah.

Meskipun dia termasuk suka bercanda, malah kadang agak berlebihan meskipun bercanda dengan pria, namun jarang sekali bercanda dengan Iwed. Apalagi Iwed terkesan kaku, khususnya terhadap perempuan, entah minder atau apa. Meskipun ramah dan murah senyum, namun jarang bercanda atau berbincang rileks. Seandainya sedang ngobrolpun, kadang terkesan kaku, apalagi sering cara bicaranya terkesan resmi.

“Bang, ini Ekusa cuma bercanda kok.”

“Ah, ga papa.” jawab Iwed pelan sambil terus melangkah menaiki tangga. Ekusa makin serba salah.

“Ga, Ekusa cuma bercanda. Ambil lagi donk. Ekusa hitung ampe tiga ya, kalau gak diambil lagi, Ekusa marah nih.”

Iwed mengalah juga. Diambilnya kembali nasi bungkus itu.

Setelah Iwed melangkah masuk ke ruangan lantai 2, giliran Marta yang nggodain Ekusa.

“Wah, Ekusa kalau ngobrol sama Iwed nyebutnya pakai nama, gak pakai aku” teriak Marta sambil cekikikan. Akupun ikut menimpali dan semangat menggoda Ekusa.

Ekusa yang terkenal cuek, segera protes, meskipun sambil tersenyum tersipu. Akhirnya kami mulai membahas tentang penggunaan nama sendiri waktu ngobrol.

“Aku dulu waktu kecil juga biasa nyebut nama sendiri waktu bicara, dan itu hal yang biasa”, Marta mulai bercerita. “Cuma waktu sekolah, senior - biasalah, di asrama, senior sok berkuasa - mencemooh penggunaan nama untuk menggantikan aku atau saya, dianggap terlalu manja. Akhirnya jadi biasa menggunakan aku atau saya jika di sekolah.”

“Tapi justru itu sempat jadi dilema. Soalnya di rumah terbiasa menggunakan nama diri, tapi karena terbiasa menggunakan kata aku di sekolah, penyebutan nama diri jadi terkesan aneh. Di lain pihak, kalau mau menggunakan kata ‘aku’, kok kesannya gak sopan banget sama orang tua. Sementara jika menggunakan kata ’saya’, kok rasanya terlalu formal. Jadinya sempat serba salah dan dilema Cuma lama-lama terbiasa juga”.

“Kalau aku, justru di lingkunganku dulu, penyebutan nama diri itu jarang dilakukan. Apalagi bahasa jawa juga menggunakan kata ‘aku’, meskipun termasuk kasar, tapi umum digunakan. Jadi aku terbiasa pakai kata ‘aku’, sementara untuk orang yang lebih tua atau dalam kondisi formal, aku gunakan kata ’saya’, biasa saja.” kataku. “Justru aku sama sekali gak pernah menyebut diriku dengan namaku sendiri, aneh rasanya”.

Yah, begitulah. Budaya memang beda-beda. Tapi seingatku, beberapa orang Padang yang kukenal, biasa menggunakan nama diri mereka untuk menggantikan kata ‘aku’ saat berbicara.


TAGS Nama Panggilan Santai


-

Author

Search

Recent Post

Komentar Terbaru