World Time

4 Dec 2008

(3:53:03 PM) Kokom: mas
(3:53:06 PM) Kokom: aku mau tanya
(3:53:30 PM) Kokom: smartu untuk pengaturan waktunya pake world time ngga?
(3:55:40 PM) Mas: world time itu apa ya?
(3:58:21 PM) Kokom: mksdnya jam dunia
(3:58:27 PM) Kokom: jadi mengikuti jam dunia
(3:58:58 PM) Mas: yang dimaksud jam dunia itu seperti apa? bedanya dengan jam kantor apa? — jam kantor ada gak ya? :)
(4:01:10 PM) Kokom: jam di smartu ngikutin jam lokal qt ato ngikutin jam international
(4:01:12 PM) Kokom: mksdnya gitu
(4:02:02 PM) Mas: jam internasional itu yang dimana? apa bedanya jam internasional dengan jam lokal?
(4:03:36 PM) Kokom: aduh mas aku ngga ngerti pasti
(4:03:45 PM) Kokom: tapi pertanyaannya gitu dari customer
(4:03:50 PM) Kokom: makanya sekarang aku tanya
(4:03:58 PM) Mas: loh, yang nanya aja nggak ngerti, apa lagi yang njawab :(
(4:04:20 PM) Mas: pertanyaan harus jelas, jadi kalau ditanya customer-pun, pastikan kita paham apa yang ditanya tadi
(4:05:09 PM) Mas: supaya gak salah paham

Setelah itu tidak ada balasan lagi. Mungkin Kokom merasa jengkel karena jawabannya malah berbelit-belit, mungkin juga aku terkesan bawel, jual mahal atau gak mau bantu.

Sebenarnya aku cuma ingin kejelasan, sekaligus mengajar dia agar kritis. Sebagai perusahaan yang bergerak dalam jasa konsultan, marketingpun seharusnya kritis untuk bisa benar-benar memahami kemauan dan kebutuhan customer. Untuk menjadi marketing yang baik, mereka dituntut untuk mengerti kebutuhan customer, bahkan sebelum customer setuju membeli produk yang ditawarkan.

Dari pengalaman, dalam melakukan analisa, kesalahpahaman sering terjadi karena dua hal. Pertama, adanya penggunaan istilah yang berbeda. Makna dari penggunaan suatu istilah, misalnya istilah A, antara customer dengan analis/konsultan seringkali berbeda, dan tidak terlebih dahulu dilakukan crosscheck, akibatnya ketika implementasi dilakukan, tidak ada titik temu. Kedua, seringkali konsultan menggunakan asumsi terhadap masalah yang disampaikan oleh customer.

Masalah pertama akan bisa diselesaikan jika konsultan bisa menggali info lebih rinci, banyak bertanya, apabila dirasa ada keraguan dan keambiguan dalam istilah yang dilontarkan customer. Bahkan kadang konsultan atau analis dituntut jeli untuk melihat apa yang sesungguhnya diinginkan customer, karena kadang customer juga memiliki keterbatasan kata-kata atau kemampuan yang terbatas dalam mengungkapkan apa yang ada di pikirannya, yang dia mau. Seringkali keinginan yang sederhana diungkapkan dalam bahasa yang rumit atau sebaliknya, permasalahan yang rumit dipandang terlalu sederhana oleh customer dan disampaikan dengan pernyataan yang singkat.

Untuk masalah kedua, salah satu solusi untuk menghindarinya adalah dengan meminta konfirmasi ke customer terhadap asumsi yang kita miliki. Dengan demikian kita akan terhindar dari pengerjaan sesuatu yang sia-sia karena asumsi yang salah. Masih syukur kalau asumsi itu tidak berakibat fatal. Namun dari pengalaman, seringkali customer mencak-mencak akibat asumsi yang dibuat dan menyalahkan konsultan mengapa tidak bertanya kalau memang tidak paham.

Banyak bertanya memang kadang menjengkelkan, apalagi kalau pertanyaan terkesan ngeyel dan sok tahu. Tapi lebih baik bertanya daripada tersesat. Tinggal bagaimana cara melatih cara bertanya yang nyaman bagi customer, dan melatih pemahaman, agar gak dianggap telmi (telat mikir).


TAGS jam internasional


-

Author

Search

Recent Post

Komentar Terbaru