Subjective

2 Dec 2008

Salah satu alasan Kuca mengundurkan diri adalah karena dia merasa dinilai secara subjektif, dan tidak objektif.

“Menilai secara subjektif itu boleh saja, tapi di luar urusan pekerjaan. Kalau dalam urusan pekerjaan, harus objektif, harus profesional”. demikianlah kurang lebih yang dia sampaikan dengan emosional. Nampaknya dia benar-benar jengkel masalah itu.

Yang menjadi pertanyaanku sejak itu adalah, penilaian yang subjektif itu seperti apa. Pertama kali aku berkenalan dengan istilah ini adalah waktu di Bandung, waktu diskusi dengan Hesly yang telah berpengalaman sebagai aktivis di kampus. Dia menjelaskan hal-hal dengan ungkapan subjektif-objektif, yang terus terang, aku kurang bisa memahami. Saat itu, yang kupahami adalah subjektif berarti hanya berdasarkan pendapat kita pribadi, ada unsur selera, apa yang kita suka atau tidak, secara pribadi. Sementara objektif ya mengacu pada nilai-nilai yang umum, ketentuan-ketentuan yang berlaku umum, ada standard tertentu.

Pagi ini Iyor sempat nanya, apa benar kita (di kantor ini) bersikap secara subjektif, karena dia sendiri merasa gak seperti itu. Rupanya sebelumnya dia ngobrol cukup serius membahas hal ini dengan Budi, sampai suara Budi terdengar cukup keras meski dari sudut ruangan. Aku gak sempat membahas banyak karena Iyor harus meeting siang itu. Tapi aku sudah bertekad untuk mencari pendapat Budi tentang subjektifitas tersebut, apalagi belakangan dia baru saja mengikuti pendidikan guru.

“Budi, aku mau bertanya nih”, kataku sore itu, udah cukup malam tapi dia belum pulang.

“Gak mau. Mas nanyanya suka aneh-aneh sih”, jawabnya ketus sambil terus beraktivitas di komputernya.

“Jadi, subjektif itu yang gimana?”

“Gini, ” dia mulai menjelaskan. Nampaknya cukup berminat dengan topik ini. Sepertinya dia pun punya ganjalan tentang hal ini.

“Subjektif itu menilai sesuatu berdasarkan subjek yang dinilai. Sementara objektif itu menilai berdasarkan objeknya, tanpa memandang pada subjek yang membuat objek tersebut. Untuk kasus Kuca, dia memang memiliki sifat-sifat yang kurang menyenangkan, tapi kan secara hasil kerja, penjualan dia bagus, dibandingkan marketing yang lain.”

“Loh, emang siapa yang menilai? Kapan penilaian itu dilakukan”, tanyaku. Cukup jelas sekarang, apa yang dimaksud dengan subjektif-objektif.

“Ya, adalah”.

“Masalahnya gini, ” sekarang giliran aku yang curhat. “Setahuku, kita ini belum melakukan penilaian. Belum ada evaluasi karyawan. Jadi, penilaian yang dianggap subjektif itu kapan?”

“Lagipula, kalau memang ada penilaian, penilaian itu dilakukan secara menyeluruh. Jadi kalau dianggap ada unsur subjektif, ya mungkin juga. Karena dalam pekerjaan, yang dinilai bukan sekedar skill dan hasil kerja, tapi juga cara kerja, cara berinteraksi dengan orang lain, kemampuan kerja sama dan sebagainya. Semua itu saling mendukung. Aku pernah kok mecat orang, meskipun skill dia bagus, bahkan lebih bagus dariku, karena dia tidak bisa bekerja sama dan perilakunya tergolong aneh.” ujarku panjang lebar.

“Kantor ini memang penuh keakraban, tapi juga kejam,” lanjutku. Aden yang mendengar agak jauh ikut tersenyum. “Masih ingat Ismail kan? Coba jelaskan, apa yang kalian lakuan itu subjektif atau objektif? Kuca aja kalau ditanya terkait dengan Ismail aku yakin pasti akan bersikap subjektif. Rata-rata kalian - para perempuan yang semua sebel dengan oknum satu itu - tidak tahu kinerja Ismail, tapi sudah pasti kalian menunjukkan ketidaksukaan dan penilaian yang, menurutku, berlebihan terhadap dia. Bukankah itu subjektif?”.

Obrolan selanjutnya mengalir cukup ringan, meski masih terkait dengan kondisi kantor yang perlu dibenahi. Ada beberapa hal yang disampaikan Budi tentang kondisi manajemen yang kurang baik menurut dia dan beberapa orang, termasuk masalah standar gaji.

Aku sengaja menyinggung Ismail, karena meskipun aku gak suka dengan dia juga, tapi aku berusaha memandang lebih umum, meski sering gagal. Dan aku tahu pasti, para wanita di kantor gak bisa memperlakukan Ismail dengan objektif, dan mungkin juga itu salah satu alasan Ismail mengundurkan diri. Aku rasa tekanan yang dihadapi di kantor cukup besar, selain menjadi “musuh” bersama para gadis, dia juga memang sudah kurang dipercaya dalam pekerjaan karena beberapa kecerobohan yang dia buat.

Bersikat objektif, kuakui cukup sulit, apalagi kalau perasaan mulai dominan. Perlu kelapangan hati yang luas untuk bisa benar-benar objektif, sehingga musuhpun bisa kita nilai dengan semestinya.


TAGS Sosial Pertemanan Penilaian


-

Author

Search

Recent Post

Komentar Terbaru