Pamitan !

1 Dec 2008

Sepulang dari luar kota, aku baca email (karena waktu di luar kota gak sempat cek email sama sekali) dengan subjek Pamitan, pengirimkan Kuca. Agak terkejut juga mendengar kabar kalau dia menyatakan mengundurkan diri bulan Desember nanti. Sebuah berita yang cukup mendadak, dan menurutku tidak ada tanda-tanda bahwa dia akan resign, atau mungkin aku saja yang kurang perhatian, karena toh selama ini aku selalu di lantai 2 sementara dia di lantai 1.

Hari ini, di tengah-tengah general meeting, Kuca menyampaikan alasan pengunduran dirinya. Intinya dia tdak puas di kantor. Dia merasa dianaktirikan (entah oleh siapa), dan merasa dinilai secara subjektif.

“Menilai secara subjektif itu boleh saja, tapi lakukan di luar kantor. Kalau di dalam kantor, dalam pekerjaan, harusnya penilaian dilakukan objektif, agar lebih profesional. Kalau mau menilai secara subjektif, lakukan diluar jam kerja”, kurang lebih begitulah pernyataan yang dia sampaikan dengan penuh nada kekecewaan.

Hampir semua uneg-unegnya dia sampaikan saat itu, termasuk ketidaksukaannya kepada Iyor. Sempat terjadi sedikit ketegangan, sebelum akhirnya Prof meminta untuk tidak membahas lebih lanjut. Setelah curhat yang disampaikan oleh Kuca, beberapa orang khususnya tim marketing juga ikut menyampaikan uneg-uneg mereka.

Prof menanggapi dengan cukup bijak, menyampaikan permohonan maaf atas kesalahan yang ada, termasuk atas kondisi fisiknya yang akhir-akhir ini melemah. BM sendiri tidak terlalu merasa bersalah (tidak secara langsung menyampaikan permintaan maaf), malah terkesan minta kejelasan dari setiap complain yang disampaikan itu, minta masing-masing menyebutkan kasus nyata yang membuat mereka tidak nyaman. Intinya dia ingin segala sesuatu jelas, tidak ada asal menuduh dan juga tidak ada yang ditutup-tutupin, demi kepentingan bersama.

Kuca … smoker perempuan pertama di kantor, bergabung lebih dari setahun lalu. Salah satu contoh lulusan informatika yang tidak terlalu cocok dengan jurusannya, dan sayangnya kenyataan ini seringkali menjengkelkan — tanpa bermaksud menyalahkan. Seringkali dia tidak terlalu paham issue-issue di dunia IT, dan bahkan ketika diminta untuk mempelajarinyapun terlihat sekali keengganannya. Itulah yang seringkali menjengkelkan. Sementara orang lain berusaha mengenal dunia IT dengan segala keterbatasannya, dia yang seharusnya termasuk orang IT (kalau dilihat dari pendidikannya), justru terlihat enggan untuk menguasai IT, padahal apa yang dijual adalah produk-produk IT.

Dia juga perempuan pertama yang tinggal di kantor, meskipun akhirnya pindah dan kost karena adanya desakan dari pihak lain, entah keluarganya atau pacarnya.

Saat awal bergabung, tidak banyak proyek yang dia dapatkan, meskipun belakangan mulai banyak hasil yang dia peroleh, bahkan mungkin melebihi daripada anggota marketing yang lain. Hal inilah yang dia minta dinilai secara objektif. Kemampuan “merayu”nya memang lumayan, meskipun kemampuan dalam hal teknis sepertinya tidak berkembang — sepertinya lho, karena aku sendiri tidak pernah melakukan penilaian secara langsung. Yang jelas, beberapa kali aku menawarkan diri untuk melakukan training beberapa produk, dan gak ada respon darinya. Tujuannya sebenarnya adalah agar tim marketing tidak tergantung pada programmer dalam memasarkan produk, karena sudah cukup menguasai produk dan bisa memberi penjelasan yang cukup jelas ke customer. Selain itu, pengetahuan mereka sendiri akan makin bertambah. Sayang, tawaranku bertepuk sebelah tangan.

Kehilangan, pastilah. Biar bagaimanapun, Kuca adalah bagian dari superteam (sudah sudah hampir tinggal separo) dan memberi kontribusi yang tidak sedikit bagi kantor. Namun hidup harus tetap berlanjut, baik bagi kantor maupun bagi kuca. Moga aja semuanya menuju ke arah yang lebih baik.


TAGS Pertemanan resign


-

Author

Search

Recent Post

Komentar Terbaru