Jalanin Aja

20 Nov 2008

“Ya udah, dijalanin aja.”

Aku kaget mendengar kata-kata itu. Perkataan itu bukanlah hal asing buatku, bahkan sebenarnya sudah mendarah daging buatku, menjadi bagian prinsip hidupku. Namun mengapa aku kaget? Karena diucapkan oleh Kandar, yang notabene adalah keturunan Tionghoa.

Pagi itu aku “melaporkan” banyak hal tentang perkembangan proyek-proyek yang sudah kritis, khususnya satu proyek pemerintahan yang sudah diujung tanduk, bahkan aku sendiri lebih setuju kalau proyek itu dibatalkan karena peluangnya kecil dan mengganggu proyek lain. Berbagai argumen aku sampaikan, dilengkapi dengan keluhan dan ungkapan ketidaksetujuanku akan banyak hal. Aku tahu aku tidak banyak bisa merubah keadaan ataupun keputusan, dan saat itu sebenarnya aku seperti mencari dukungan.

Tapi jawaban Kandar cukup mengejutkan, “Ya udah, dijalanin saja!”. Lah, cukup aneh rasanya ini keluar dari seorang Tionghoa, yang menurutku seharusnya penuh perhitungan, pertimbangan untung-rugi yang njlimet dan teliti, tapi kok sepertinya sekarang pasrah, nrimo begitu saja, dan masih tetap semangat. Sebagai orang Jawa tulen, penganut kejawen yang belum khatam, aku merasa tertampar. Kata-kata itu kan harusnya aku yang mengucapkan hal itu. Menjalani hal-hal yang sudah sulit kita ubah dengan keteguhan hati tanpa banyak protes, harusnya aku yang lebih menguasai prinsip itu. Tapi kok sekarang malah aku yang bawel dan crewet dengan keadaaan.

Untuk sejenak aku terdiam. Ternyata ilmu sumarahku masih kurang. Mungkin Kandar sudah lebih paham, meski bukan orang Jawa, mungkin karena pengaruh pergaulan sejak kecil di Solo. Toh memang pelajaranku belum selesai, dan aku juga masih setengah-setengah menjalani prinsip-prinsip kejawen.


TAGS Pertemanan Berserah


-

Author

Search

Recent Post

Komentar Terbaru