Dibantai

18 Nov 2008

Aku melangkah dengan pasrah. Sepanjang jalan kulalui dengan cukup resah, was-was dengan apa yang aku hadapi. Harusnya ini tugas Prof, sayangnya tiba-tiba kemarin dia membatalkan karena sakit dan harus istirahat. Sebelumnya aku cuma mendampingi, menggantikan Kandar yang sedang keluar kota. Tapi sekarang, akulah yang bertanggungjawab melakukan negosiasi ini, didampingin Kuca, yang aku yakin, dia benar-benar cuma mendampingi.

Pagi-pagi aku coba telpon Kandar, menggali info sebanyak mungkin terkait dengan proyek ini - tanggal perjanjian, sanksi, apa saja yang tercakup dan hal-hal yang masih belum selesai. Aku sedikit percaya diri dengan data yang sudah kuterima, apalagi sebelumnya Kandar bilang bahwa client juga sadar kalau system mereka cukup rumit dan pasti akan molor. Yah, setidaknya ada bekal untuk negosiasi, meskipun ini baru pertama kali kulakukan. Tanggung jawab yang kupikul cukup berat, anggap aja sebagai pengalaman dan latihan.

Memasuki ruang meeting, sudah ada beberapa wanita, sebagian menyambut dengan ramah, sebagian cuek. Tak lama kemudian datang yang lain, total semuanya ada 7 wanita yang harus kuhadapi. Belakangan aku baru tahu kalau hampir separuhnya adalah petinggi, mungkin selevel direksi. Waktu aku baru memulai pembicaraan, tanpa basa-basi karena aku sendiri kurang bisa basa basi, suasana sudah tegang. Tanpa memberi kesempatan, ibu-ibu senior itu langsung menanyakan (meski sebagian besar bukan pertanyaan melainkan pernyataan) hal-hal yang cukup memojokkan kami - kenapa terlambat, apa lagi yang kurang, kok bolak-balik nanya melulu tapi gak selesai-selesai, tahu gak kalau di perjanjian ada pinalty, dikerjakan berapa orang sih, serius gak dengan proyek ini, dsb –.

Terus terang, aku gemeteran, tertekan dengan keadaan ini. Ini pembantaian namanya, bukan negosiasi. Kuca diam saja. Client langsung menyampaikan hal-hal yang mereka inginkan, tanpa bisa dinego lagi. Skak mat buatku! Aku kehabisan bahan untuk melakukan negosiasi, posisi kami lemah. Ibaratnya aku sudah kehabisan amunisi sebelum pertempuran dimulai.

Sebenarnya, salah satu amunisi yang ingin aku gunakan adalah pernyataan Kandar bahwa client sudah memahami bahwa proses bisnis mereka rumit sehingga bisa maklum kalau pengembangan system jadi molor, melebihi waktu yang disepakati di awal. Tapi ternyata, staff mereka langsung kompak mematahkan amunisiku itu dengan mengatakan bahwa semuanya sudah disampaikan di awal, tidak ada lagi perubahan, yang ada adalah pihak pengembang kurang bisa menangkap apa yang client inginkan sejak awal. Akibatnya client merasa mereka harus menjelaskan suatu hal berulang-ulang, padahal mereka merasa sejak awal sudah menyampaikan dengan jelas. Waduh, mati kutu aku. Aku gak tahu proses dari awalnya. Kandarlah yang bisa lebih mengerti hal ini. Aku juga gak bisa ngotot karena aku gak punya data, sementara mereka cukup kompak dan gak mau merasa disalahkan. Tujuh lawan dua, dari jumlah saja sudah keteteran. Jadilah aku bulan-bulanan di tempat itu, hanya bisa mengiyakan setiap hal yang mereka keluhkan, dan dengan sekuat tenaga berusaha membela tim kami (khususnya Kandar).

Satu permintaan terakhir mereka yang aku tidak sempat antisipasi adalah mereka meminta disiapkan bank garansi 20% dari total nilai proyek. Awalnya mereka minta besok harus selesai, tapi aku minta waktu lusa, dengan pertimbangan harus membahas dengan pihak finance. Sebenarnya aku gak tahu apa-apa tentang bank garansi, bagaimana proses pembuatannya dan berapa waktu yang dibutuhkan. Setidaknya aku coba mengulur waktu, meski pada akhirnya aku sadar, waktu yang kuulur itu tidak cukup panjang.

Setelah semua sepakat, para petinggi ngeloyor pergi duluan. Kemudian suasana mulai mencari, tidak terlalu tegang. Yang kami hadapi tinggal jajaran staff, yang mulai bersikap bersahabat. Salah satunya sempat bilang, bahwa saat ini memang tinggal membuat kesepakatan, dan karena sudah disepakati,gak bisa dibatalkan lagi. Termasuk masalah bank garansi tadi, seharusnya aku gak langsung mengiyakan, tapi mencoba diskusi dulu dengan manajemen. Kalau sudah diiyakan gitu, bakal repot nantinya, karena itu sudah dianggap jaminan kesanggupan. Ah, kenapa gak bilang dari tadi, demikian umpatku dalam hati, umpatan konyol.

Dengan berat hati aku menandatangani minutes of meeting yang berisi hal-hal yang kami sepakati waktu itu, sebagai simbol keseriusan kami untuk melaksanakan kesepakatan yang ada. Aku pulang dengan wajah lesu tertunduk dan ratusan makian memenuhi kepalaku.

Harus aku akui, aku belum siap menempati tanggung jawab managerial. Tapi ini kuanggap sebagai pengalaman, pengalaman yang cukup berharga. Mungkin memang aku akan memerlukan lebih banyak lagi pembataian seperti itu, agar bisa benar-benar siap.

“Cantik-cantik gak Mas?”, pertanyaan Iyor yang gak penting waktu aku menceritakan pertemuanku itu.

“Ya, cantik sih”, kubilang aja jujur. Memang, sebagian dari pembantai itu tidak bisa dibilang jelek. Hanya saja kecantikan mereka tertutup oleh keganasan mereka yang tanpa ampun terhadapku :(

“Jangan-jangan gara-gara itu Mas jadi gak berkutik .. hehehe”

Sialan, malah ditertawakan. Ibarat bunga mawar yang tertutup duri, kecantikan mereka lenyap karena sikap mereka yang sama sekali tidak ramah. Okelah mereka kecewa dan mencoba menjaga wibawa, tapi ya korbannya adalah kecantikan mereka jadi sia-sia. Lah, jadi ngelantur gini.


TAGS Pelanggan Meeting Negosiasi


-

Author

Search

Recent Post

Komentar Terbaru