Kepanikan di pagi hari

13 Nov 2008

Meskipun sekedar mitos dan tahayul yang sudah banyak ditinggalkan, namun tidak dapat dipungkiri kalau angka 13 di hari ini mengandung berbagai kesialan. Bukan kesialan yang fatal, tapi setidaknya sudah memberi beberapa kepanikan di pagi hari. Mungkin masih terlalu kasar juga kalau dibilang panik … cuma mencemaskan, atau menjengkelkan. Lebih halus lagi, kurang beruntung.

Kejengkelan pertama terkait dengan ulah Bose (lagi). Pagi ini tiba-tiba dia ngeloyor pergi tanpa pamit, membawa serta mobil kantor. Padahal jam 9 pagi sudah ada jadwal harus mengantar beberapa karyawan ke customer. Seperti biasa, ponselnya sulit dihubungi, apalagi dia punya kebiasaan gonta-ganti kartu (mumpung gonta-ganti kartu belum diharamkan kali). Semua menduga kalau dia nyuci mobil, tapi dimana? Lagipula dia sudah diberi tahu kalau harus pergi jam 9. Benar-benar menjengkelkan! Sampai jam 10 dia belum juga nongol. Akhirnya diputuskan untuk rental mobil+supir. Gimana kalau pas rental data, Bose juga datang? Biarlah, toh ada 2 jurusan yang dituju, jadi yang rental cuma nge-drop saja, nanti pulangnya biar dijemput dengan mobil kantor.

Tak lama setelah rental mobil dihubungi dan disetujui, Bose muncul senyum-senyum. “Tadi ada yang nelpon saya ya?” tanyanya sambil cengengesan, tanpa merasa bersalah. “Ini lho, HP saya rusak …”. Gak ada yang menanggapi, sudah tahu kebiasaan dia, mendingan diam daripada malah tambah emosi.

Masalah berikutnya adalah masalah uang. BuDi yang pegang keuangan, hari ini gak bisa datang karena ada urusan. Jadi??? Iyor sempat bisik-bisik ke aku, kalau petty cash lagi kosong. Halah… kok ada-ada aja. “Ya udah, nih pakai ATMku, ambil duitku dulu”, kubilang sambil menyodorkan ATMku, mumpung masih ada isinya. Untung juga hari ini masih tergolong tanggal muda, jadi beberapa karyawan masih memegang uang kas di kantongnya.

Selanjutnya, hari ini rencananya ada customer yang mau datang ke kantor, untuk melihat perkembangan proyek yang kami kerjakan. Proyek ini cukup besar, dan customer sudah mulai kurang percaya dengan perkembangan yang ada. Dulu PIC proyek ini sempat mengancam akan membatalkan proyek, hanya karena programmernya kurang cermat dalam melakukan demo program, padahal proyek baru berjalan 30% dari jadwal. Sekarang kondisi proyek sudah diujung tanduk, bahkan kami sudah dihitung pinalty.

Dan hari ini mereka akan datang, termasuk pimpinannya. Mungkin mereka tidak mau kejadian presentasi terakhir terulang, dimana laptop yang kami bawa kena virus sehingga program yang ada tidak bisa dipresentasikan. Makanya mereke memilih datang langsung ke kantor, agar kami tidak bisa berdalih #-o.

Kenapa harus hari ini??? Kenapa harus pula datang ke kantor??? Hari ini BM gak ada karena ke Jogja, Kandar juga mendadak pergi ke Malang untuk urusan proyek. Ada Prof sebagai direktur. Cuma semalam Bang Napi bilang kalau Prof kemungkinan gak masuk. Lha? Gak mungkin ah, pikirku, kan proyek penting, paling cuma bercanda. Eh, ternyata pagi ini benar-benar Prof gak masuk, alasannya harus berobat, dan baru bisa datang setelah jam 12. Haiyaaaa … mau gak mau aku, sebagai yang paling dituakan diantara yang lain, harus siap-siap menyambut customer mewakili management.

Dag dig dug der juga rasanya, sedikir resah menunggu customer, sambil “berfantasi” bagaimana cara berbasa-basi menghadapi customer, yang katanya ownernya langsung mau datang. Ah, sudahlah, hadapi saja. Kebetulan itu pula yang disampaikan Om Bag pagi tadi.

Syukurlah, kepanikan yang ada tidaklah menjadi kesialan yang fatal. Customer membatalkan kunjugannya, dan meminta presentasi dilakukan di kantor mereka. Lega, buatku, tapi bukan buat Om Bag yang akan melakukan presentasi.


TAGS disiplin Pekerjaan Customer


-

Author

Search

Recent Post

Komentar Terbaru