Siapa Yang Enak

4 Nov 2008

Sore ini, sepulang makan malam yang diiringi dengan derasnya hujan, kami bersantai di lantai 1. Ekusa masih belum pulang karena hujan, masih duduk-duduk di kursinya. Selanjutnya Bang Napi ngobrol dengannya. Setelah naruh sendal, aku ikutan ngobrol sambil mijitin pundak Ekusa — yang kebetulan juga lagi sedikit masuk angin — sambil menghangatkan badan juga. Eh, lha kok Bang Napi langsung balik badan, membelakangi Ekusa minta dipijit juga. Dengan sukarela Ekusa memijit, jadilah rangkaian kereta 3 gerbong.

Renaldy yang tiba-tiba nongol langsung aku suruh mijit di belakangku. Tak lama kemudian Om Bag bergabung, memijat Renaldy. Jadilah rangkaian 5 gerbong saling memijit. Suasana meriah, seru, diiringi rintihan sakit+nikmat dipijit. Kuca senyum-senyum saja sambil berdandang memandang tingkah kami, kemudian karena provokasi, mulailah dia memotret dengan kamera ponsel. NaN semula di lantai 2 ikut bergabung dalam kemeriahan itu, tapi bukan untuk memijit, melainkan mengabadikan momen itu lewat kamera ponselnya.

Bang Napi yang berada di barisan depan mencoba menutup mukanya, tidak rela kalau dipotret dalam kondisi seperti itu. Maklum, sepertinya hal seperti ini masih sedikit “tabu”, apalagi selama ini dia memang reputasi “ustadz” :D. Berkali-kali NaN mencoba mengambil gambar Bang Napi, selalu saja dia menghindar.

Setelah beberapa menit, posisi ditukar, Kami semua balik arah, biar gantian. Jadi masing-masing memijat orang yang sebelumnya memijat dia. Mau gak mau, Bang Napi kebagian jatah mijit Ekusa, sementara Ekusa mijit aku. Tak beberapa lama, Ekusa mengeluh, “Mas, ini Bang Napi mijitnya gak jelas, cuma gini-gini doank”, katanya sambil memberi contoh cara mijit Bang Napi, yang cuma menekan-nekan tidak teratur dan pindah-pindah.

Spontan, sambil tertawa, Bang Napi nyeletuk, “Lha aku mijitin Ekusa, aku yang enak kok”.

Kontan meledaklah tawa kami semua di tempat itu. Ekusa langsung ngamuk-ngamuk ke Bang Napi, “Itu otak jangan negatif donk”, sambil mukul-mukul Bang Napi, yang masih tersenyum sangat malu, sampai ngumpet di kolong meja.

NaN gak mau kalah mencela sambil tertawa, “Yah, percuma lu tiap pagi ngirim renungan pagi ini”, lepas sekali rasanya NaN mencela-cela Bang Napi. Bang Napi hanya bisa tertawa-tawa, sepertinya menyesali omongannya barusan.

Akupun tertawa, ampe pegel mulut dan pipi, apalagi emang sejak kami mulai buat rangkaian memijit itu suasana sudah penuh tawa, pokoknya ujan deras di luar gak terasa dingin. Tapi dengar celetukan Bang Napi itu, tertawaku makin menjadi.

Sebenarnya apa yang kutertawakan? Apa karena yang ngomong adalah Bang Napi, yang notabene punya reputasi alim, berbeda dengan NaN yang memang selengekan dan ancur? Mungkin yang lain tertawa karena alasan itu, seperti menertawakan “kesalehan yang ternoda”.

Bukan, bukan itu yang aku tertawakan. Orang alim pun manusia normal, dengan segala nafsu dan “keliaran”nya, sehebat apapun dia mengekang semua itu, tetap saja bisa tertawa suasana. Aku gak menertawakan kegagalan dalam menjaga kesalehan. Aku menertawakan kepolosan, kepolosan seseorang yang berusaha hidup sholeh dan menjadi teladan. Saking polosnya, dia keceplosan mengucapkan hal yang “kurang pantas”, meskipun sebenarnya jujur dan bukanlah dosa.

Padahal, bagiku wajar kalau seorang lelaki merasa demikian. Sebagian besar lelaki memiliki fantasi liar dalam pikirannya. Hanya saja, kemampuan tidak harus diumbar dengan kata-kata. Menurutku, mereka yang sopan, bukanlah mereka yang bisa membuang fantasi negatif itu — karena nyaris negatif -, melainkan bisa menetralisir, tidak menganggapnya sebagai suatu yang sakral (dipuja atau dihindari mati-matian), sehingga tidak mengganggu kinerja otak. Dengan kemampuan ini, fantasi negatif yang ada bisa segera tergantikan dengan pikiran-pikiran yang lebih bermanfaat, tanpa harus berjuang untuk menyingkirkannya. Orang yang sopan juga adalah mereka yang bisa menjaga mulutnya, agar tidak terlalu “vulgar” dengan mengucapkan apa yang di otaknya. Cukuplah disimpan, atau seandainya dikeluarkan pun, bisa mempertimbangkan saat yang tepat, dan menggunakan kata-kata yang lebih gentle. Hehehee ….

Kejujuran, berawal dari hati yang polos, bisa menjadi bumerang jika disampaikan di saat yang tepat, apalagi tanpa tedeng aling-aling. Kok rasanya Bang Napi kayak orang yang lagi mabuk kepayang :D


TAGS persahabatan pijat tabu jujur perkataan


-

Author

Search

Recent Post

Komentar Terbaru