Tabrakan Beruntun

22 Oct 2008

Laju kendaraan yang aku tumpangi waktu itu tergolong normal untuk ukuran jalan tol, paling sekitar 100. Kondisi jalan cukup padat, tapi masih bisa melenggang dengan cukup stabil di kecepatan seperti itu. Sempat beberapa kali ada sedikit perlambatan, tapi kami masih bisa yakin sampai Jakarta gak akan lebih dari 1 jam.

Mendekati Bekasi Timur, terlihat ada sedikit kemacetan. Jarak mobil kami dengan mobil di depan tergolong cukup aman, dan kurasa mobil mulai di rem dengan tenang. Namun semakin mendekati mobil di depan, rem yang dilakukan terkesan “panik”, sampai 2 kali dan …. akhirnya nabrak juga mobil di depannya.

“Wah, akhirnya tabrakan juga #-o”. dalam hati. Jadi teringat, sebelum berangkat aku sempat berpikir iseng akan kemungkinan terjadi kecelakaan. Biasanya aku duduk di depan, tapi waktu itu aku sengaja milih duduk di belakang. Eh.. lha kok kejadian beneran.

Waktu terjadi tabrakan, aku sendiri gak ngerasa panik atau cemas. Untung si Kuca lagi tidur, meskipun sempat terbangun tepat saat mobil akan menabrak mobil di depan. Biasanya perempuan kan sering berisik kalau menghadapi kondisi yang menegangkan, apalagi hendak mengalami kecelakaan. Cuma waktu itu si Kuca gak mengeluarkan teriakan histeris ataupun kata-kata latah yang biasa muncul waktu kaget. Hanya saja, memang setelah itu, dia terlihat cukup cemas dan mengaku kalau masih deg-deg-an.

Gak sampai 2 detik setelah mobil kami menabrak mobil yang berhenti di depan, eh, giliran mobil kami ditabrak mobil lain dari belakang, dan secara otomatis mobil kembali menabrak mobil yang didepan. Tak lama kemudian, terdengar lagi suara tabrakan dari belakang, dan untuk untuk kedua kalinya mobil kami ditabrak dari belakang. Lengkap sudah!!!

Total 5 mobil dalam tabrakan beruntun itu, tepat di lajur paling kanan. Supir-supir setiap kendaraan keluar, mengamat-amati kerusakan yang dialami masing-masing mobil. Aku gak terlalu mencemaskan saat-saat tabrakan terjadi, toh sudah terjadi dan gak celaka apa-apa. Yang aku cemaskan adalah kalau pemilik mobil yang kami tabrak ngamuk-ngamuk. Paling gak tahan aku ndenger orang marah-marah (yah, meskipun aku sendiri cukup hobi marah-marah :D ).

Ternyata pemilik mobil yang kami tabrak tidak marah. Mungkin karena kerusakan yang dia alami gak terlalu parah, cuma chasis tergores, apalagi mungkin dia merasa kalau kami juga tertabrak dari belakang. Cuma supir kami dan supir mobil di belakang kami yang sempat ngobrol. Sementara mobil paling belakang langsung pergi. Padahal, kata supir, mobil itu yang rusaknya paling parah, sampai karburator pecah dan air muncrat2 dari bagian depan. Mungkin karena laju yang sangat kencang dan jarak antar mobil yang terlalu pendek. Entahlah! Aku sendiri heran kenapa kami bisa sampai menabrak mobil yang berhenti di depan kami, padahal sebelumnya aku ngerasa kecepatan dan jarak masih cukup untuk menghindari tabrakan.

Mau gak mau aku mulai curiga kalau supir kami agak ngantuk, atau minimal kurang konsentrasi. Tapi aku gak mau ribut, kuanggap aja itu musibah, toh kami tidak cidera apa-apa. Toh supir itu juga pasti akan lebih hati-hati dan mendapat pelajaran juga. Lagipula mobilnya juga cedera cukup lumayan, gak bisa diabaikan. Akhirnya kamipun membatalkan perjalanan ke Jakarta, dan berbalik kembali ke Cikarang.


TAGS Perjalanan kecelakaan


-

Author

Search

Recent Post

Komentar Terbaru