Akibat Sungkan

18 Oct 2008

Hp ini tidak jadi ke tempat Mr. T. Thx.” begitulah sms BM pagi kemarin, waktu aku bersiap mau ke customer di Muara Karang. Seharusnya malam ini aku diminta datang ke tempat Mr. T karena komputernya bermasalah. Mr T adalah orang Jepang yang mengenalkan kantor ke perusahaan tertentu agar beli produk kantor.

Malam harinya, waktu aku baru saja sampai ke kantor setelah cukup lelah seharian ngasih training ke customer, datang lagi sms dari BM “hr ini yg dicancel diganti sabtu. ada yg bs ke sana? Jam berapa?”.

Aku sempat ngobrol dengan orang yang masih tersisa dikantor, karena hari Jumat, sudah tinggal sedikit yang tersisa. Hampir semua gak bisa, DS gak bisa karena ada acara di gereja, padahal dia yang paling memungkinkan karena tinggal di Jakarta dan punya kendaraan. Yang lain jelas gak bisa karena, seperti diriku, sudah punya acara rutin akhir pekan yang cukup sulit untuk dibatalkan kecuali dalam hal sangat darurat. Buatku, hal ini tidak darurat, karena Mr T bukanlah client yang menjadi tanggung jawab kantor.

Setelah beberapa obrolan, sms BM aku balas, dan bilang kalau gak ada yang bisa. Eh, langsung dapat balasan sms, yang intinya “memaksa” agar ada orang yang ke tempat Mr T besok, soalnya BM sudah terlanjur bilang bisa. Halah !!! Dalam hati aku mengumpat sekenanya. Kok seenaknya aja bilang bisa, padahal segala sesuatu tergantung orang lain, dan kondisi tidak terlalu mendukung, apalagi bukan tanggung jawab lain. Jika ini terkait dengan client (yang sudah terdaftar), aku mau aja bela-belain kerja di weekend, demi tanggungjawab di perusahaan. Tapi ini kan …. ah, entahlah, yang jelas aku agak setengah hati dengan hal ini.

Kutanya Renaldy yang lagi sibuk ngoprek komputernya - yang kembali ngadat tanpa sebab. Dia bersedia, tapi gak berani ke Jakarta sendirian, karena gak terlalu ngerti daerah itu. Akupun sms keadaan apa adanya ke BM, tapi tetap beliau ngotot harus ada yang ke sana, karena SUNGKAN. Alternatif terakhir masih ada, yaitu Iwed. Karena satu dan lain hal, aku jadikan dia alternatif terakhir. Waktu kutanya, dia bersedia. Aku coba telp Mr T untuk konfirmasi pakai telepon kantor. Ternyata gak diangkat juga. Ah, biarin lah.

Pagi hari, BM sms minta kepastian. Kubilang kalau Iwed bisa ke tempat Mr T, sekitar jam 9.
Eh, ternyata Iwed agak lelet juga. Udah bilang bisa berangkat jam 9, masih saja belum berangkat jam 9 lebih, padahal bis ke Jakarta kan terjadwal sejam sekali. Aku gak terlalu menyadari hal itu, sampai ada telp dari BM menanyakan apakah Iwed sudah berangkat. Ternyata Mr. T sudah buat jadwal akan pergi jam 12. Waduh, kacau lagi. Perjalanan Cikarang-Jakarta gak bisa cepat, apalagi hari Sabtu, belum lagi Iwed tidak mengerti daerah yang akan dituju. Dengan sedikit jengkel, aku minta Iwed segera berangkat, pakai bis biasa aja, terlambat cuek aja, salah sendiri orang Jepang sok teratur waktunya. Nanti kalau dah sampai Jakarta baru naik taksi ke tempat tujuan.

Siang harinya, BM nelpon, gak kuangkat karena aku lagi di tempat ramai, jadi gak bakal bisa denger. Selanjutnya DS yang nelpon, kali ini kuangkat karena lingkungan memungkinkan. DS “curhat” tentang Iwed, katanya pengetahuan dan kemampuannya cukup kurang, akibatnya masalah komputer Mr T gak bisa dibereskan, dan DS pun kesulitan untuk meng-guide Iwed karena pengetahuan yang terbatas. Huhhh :-<, aku juga bisa menarik nafas dalam-dalam mendengar “curhat” DS itu. Di akhir telpon, DS sempat bilang, lain kali kalau ngirim orang yang kompeten, biar gak malu-maluin. Langsung aja aku potong omongannya dan bilang “Lah, BM kalau buat janji ya jangan sembarangan, kan ngaco bikin janji kayak gini”. DS bisa paham dan segera mengakhiri percakapan.

Beginilah, akibat sungkan, jadi nyusahin. Sayangnya, yang susah kok jadi orang lain, jadi banyak yang kena imbasnya. Aku gak peduli apakah BM jadi marah ke aku karena terkesan aku gak serius bantu beliau, toh aku punya pertimbangan tentang kedaruratan suatu kasus. Sepanjang hari jadi bete gara-gara mikirin masalah ini :(


TAGS Pekerjaan maintenance


-

Author

Search

Recent Post

Komentar Terbaru