Jan 24 2012

Kehilangan

“Laptopku kan barusan hilang”, kata Marta waktu kami baru masuk ke mobilnya.
“Dimana?”, jawabku spontan setengah terkejut.
“Di rumah sakit”

Mulailah Marta bercerita sambil mengemudi menuju kantor. Pagi ini aku iseng pergi ke Cikarang untuk mampir ke kantor lama, dan sebelumnya aku sarapan lagi di McDonalds Citywalk. Marta berbaik hati menjemputku dengan mobil barunya. Nyaman juga dijemput sopir jelita hehehe…

Rupanya laptop dia hilang waktu sedang meeting dengan user. Peserta meeting cukup banyak, sekitar 30 orang, dan meeting sendiri diadakan di ruangan lantai 4 yang cenderung bebas dari lalu lalang pengunjung rumah sakit, karena lantai itu memang khusus untuk kantor operasional. Kejadiannya di hari kedua meeting.

“Pas hari pertama meeting, aku dah tanya ke BM, apa laptop aman ditinggal di ruangan. Jawab BM sih aman aja, dan hari pertama itu gak kejadian apa-apa. Pas hari kedua barulah laptop ilang.” kisah Marta, sambil tetap dengan santai mengemudikan mobil.
“Hmm … kurasa ada orang dalam” kataku menimpali. “Karena kejadian pas di hari kedua, berarti ada kemungkinan itu bukan kejadian spontan”.

“Aku rasa juga begitu”, kata Marta. “Ada tiga laptop yang hilang, salah satunya punya Ria. Kasihannya lagi, pas saat itu yang dibawa Ria adalah laptop suaminya karena laptop dia sedang diperbaiki. Jadi yang hilang adalah laptop suaminya”.

Kami sampai di kantor, dan mulai beraktivitas setelah sejenak berbasa-basi. Aku sengaja datang untuk membantu penjelasan ke programmer baru soal proyek yang dulu aku tangani, dan masih banyak problem ketika kutinggalkan. Ternyata masih ada kejutan lagi selain hilangnya laptop Marta dan Ria.

Siang harinya BM muncul. Ternyata semalam dia baru saja kehilangan tas di dalam mobil yang diparkir di salah satu ruko. Mobilnya dicongkel dan berhasil membawa tas yang berisi laptop, berkas dan juga dompetnya. Di dalam dompet itu ada beberapa kartu kredit yang aktif dengan limit yang cukup besar. Baru bisa melakukan pemblokiran selama 1.5 jam, kartu kredit sudah digunakan hingga nominal sekitar 30 juta. Reportnya lagi, di dalam laptop ada berkas rencana perubahan gaji karyawan yang harus diserahkan akhir pekan ini. Aku turut prihatin dengan kejadian yang dialami BM, Marta dan Ria. Yah, namanya musibah seringkali susah ditebak, meskipun sudah berbagai cara untuk menghindarinya.

Makan siang aku putuskan untuk mentraktif, biasanya BM yang nraktir kami semua. Mumpung aku masih ada rejeki dari kerja sambilan bulan lalu :)


Jan 16 2012

Blessing In Disguise? Again?

Hari ini aku jalani dengan lancar. Proyek yang targetnya akhir pekan ini sebagian besar sudah kubereskan minggu lalu. Kalaupun ada pernak-pernik yang kurang dan aku memang kurang paham, aku yakin manajer dan teman-teman bisa membantu. Bukan masalah coding, dan kurasa mereka sudah fasih dengan sistem yang ada.

Sore hari, mendadak ada panggilan dari Mr. TC  via Skype. Seperti dugaanku, dia menanyakan status proyek yang akan diuji coba minggu depan. Kujawab kalau hampir semua dah beres, cuma masalah workflow, karena aku belum terbiasa. Jawabnya cukup melegakan: “Workflow sih gampang”. Tapi ternyata bukan itu yang ingin dia bicarakan, itu cuma intro. Inti dari pembicaraan adalah pemberitahuan bahwa Mr. BA, manajer teknis kami yang ada di India, akan mengundurkan diri dan berencana pindahke New Zealand. What !!!!

Gubrak …. !!! Kaget, meskipun seperti biasa tanpa ekspresi.

Salah satu hal yang membuat aku nyaman di kantor baru ini, meskipun makin lama teman-teman makin berkurang, adalah aku bisa bekerja sama dengan Mr. BA. Sebagai analis, manajer proyek dan manajer secara teknis, dia cukup bisa diandalkan. Meski banyak programmer lain yang merasa kesulitan dan tidak suka padanya, tapi aku belum menemukan masalah bekerjasama dengan dia. Dalam beberapa hal orangnya baik, mau membantu saat aku minta, sangat cooperative. Kemampuan analisis yang bagus membuat pekerjaanku terasa lebih mudah. Di sini kami bisa berbagi tugas, dimana dia sebagai analis dan perancang, aku cukup jadi tukang coding.

Dengan adanya Mr. BA sebagai analis dan manajer proyek aku rasa kantor ini masih akan bisa bertahan, selama penjualan tidak bermasalah. Aku rasa aku bisa mengatasi urusan pemrograman dengan dukungan beberapa teman. Memang akan lebih membantu jika ada programmer baru, meskipun sampai saat inipun aku masih punya banyak waktu luang.

Mendengar Mr. BA resign membuatku kaget, dan gelisah seperti biasa. Kami tidak pernah bertemu. Obrolan via skype juga masih berkutat dengan urusan pekerjaan, jarang basa-basi. Dia juga sepertinya “kurang gaul”, kurang suka memajang foto sendiri. Tapi entah mengapa aku merasa akrab dengan dia.

Lalu apa kaitannya dengan “Blessing in disguise” ?

Sebenarnya kata-kata itu diucapkan oleh Mr. TC. Dengan mundurnya Mr. BA, dia merasa akulah yang paling cocok menggantikan posisinya, dan dia menawarkan hal itu buatku. Aku kesulitan harus memberi jawaban. Promosi adalah hal yang diharapkan setiap orang. Beberapa orang enggan jadi programmer dan ingin pindah ke posisi yang (dianggap) lebih mentereng dibanding sebagai tukang coding. Tapi yang ada dibenakku sekarang hanyalah masalah kenyamanan. Aku enjoy menjadi programmer, dan aku nyaman dengan posisiku sekarang, karena hampir tidak banyak tekanan.

Jabatan yang ditawarkan Mr TC memang menggiurkan, cukup tinggi apalagi untuk perusahaan multinasional meskipun karyawan gak nyampe 10 hehehe. Tapi tanggungjawabnya juga gak sepele. Ini yang aku kuatirkan.

Di kantor sebelumnya aku pernah jadi manajer, bahkan jabatan paling tinggi, tapi semua terjadi nyaris karena keadaan. Karena gak ada yang lain (orang-orang yang kompeten sudah pada mundur), dan aku yang paling senior menjadi pilihan terakhir. Bisa dibilang waktu itu aku juga gagal, meskipun BM menganggap aku tidak gagal melainkan banyak kondisi yang tidak mendukung.

Aku bingung harus menjawab apa ke Mr. TC. Kalau komunikasi menggunakan bahasa Indonesia, akan lebih mudah buatku merangkai kata. Tapi ini pakai bahasa Inggris dan aku sulit untuk menggali kosakata yang tepat. Akhirnya, setelah aku frustrasi, aku cuma bilang ke bos kalau aku gak percaya diri. Kalau tidak ada pilihan lain, aku siap saja menerima tanggung jawab itu, tapi kutegaskan kalau aku gak percaya diri.

Mr. TC mencoba menguatkan aku dan menjanjikan akan memberi dukungan.

Aku mengakhiri hari dengan rasa gundah gulana, bahasa gaulnya “GALAU”. Tapi memang ini selalu aku rasakan waktu aku “kehilangan” sosok yang cukup akrab dan cukup aku andalkan. Tapi hidup harus jalan terus …. untuk sementara aku memilih gak cerita ini ke istriku. Aku kuatir kalau dia nanya soal gaji hehehe


Des 30 2011

Reuni Innovate

Tahun lalu, ada beberapa usaha untuk mengadakan reuni kantor lama dan selalu gagal. Pertama adalah rencana buka puasa bersama, tidak ada kata sepakat mengenai waktu. Hingga Lebaran tiba, masih belum ada kesepakatan. Lalu aku usulkan untuk ngumpul halal-bi-halal, tetap saja sama, banyak yang hanya menunggu bola, tapi ketika ada yang usul, dia gak cocok dengan waktunya. Aku sendiri kurang antusias dengan hal itu, karena masih belum ada budget buat ngumpul hehehe… Pola pikir lama masih bercokol: siapa yang ngajak, siap-siap nraktir. Agak gengsi juga kalau aku gak jadi donatur, kecuali sudah ada donatur lainnya wkwkwk.

Akhir tahun ini aku coba ngumpulin beberapa orang dulu. Setidaknya buat obat kangen saja setelah beberapa bulan/tahun gak ketemu, meskipun hanya beberapa orang. Kebetulan masih ada rejeki sisa akhir tahun, jadi buat nraktir 4-5 orang masih bisa lah, asal jangan di restoran mahal. Pertama aku ajak Budi, terus Gita. Cuma mereka yang cukup dekat denganku saat ini. Iyor masih di kampung halaman, sedang Bude lagi mudik natalan di luar pulau. Budi ngajak Amey, yang karena jadwal kuliah tidak punya kesempatan buat mudik. Ok, sepakat, ketemu di Plasa Semanggi. Aku sebenarnya ingin ngajak Hadi, tapi kehilangan kontak. YM gak pernah aktif, di FB juga dia gak aktif. Ada satu lagi yang mungkin bisa diajak yaitu Arso, dia pasti mau, tapi kurasa jangan dulu, soalnya dia kurang populer diantara para peserta lainnya hehehe.

Keuntungan ngumpul dengan jumlah kecil adalah kesepakatan mudah terbentuk. Dan kali ini kami berhasil ngumpul, meskipun hanya 4 orang. Biar murah meriah, tempatnya di D’Cost saja hehehe. Aku sampai di halte Semanggi untuk ketemu dengan Budi, soalnya Budi gak pede, belum pernah masuk Plasa Semanggi, takut nyasar. Memang, akan cukup membingungkan berada di mal satu itu, apalagi di lantai dasar, aku pernah bingung berputar-putar cukup lama untuk sekedar mencari jalan keluar yang pas. Sampai di halte ternyata sudah ada Amey, dia sedikit kaget melihatku. Gak lama Budi muncul, dan kami bertiga langsung ke mal untuk nunggu Gita, yang meskipun naik taksi tapi sedang merayap di tengah kemacetan akhir pekan. Tidak lama kami menunggu kedatangan Gita. Uniknya, ketiga orang itu ukuran fisiknya tergolong kecil (tinggi badan lebih pendek dibanding aku), dan diantara mereka, Gitalah yang paling lebar hehehe, maklum dah jadi emak-emak.

Sambil makan kami cerita ngalor-ngidul gak jelas, beberapa kali menyerempet gosip. Kebanyakan cerita tentang kondisi kerja di kantor masing-masing. Cukup seru dan meriah, meskipun tidak heboh. Setidaknya buatku, lumayan melegakan bisa ngumpul dan ngobrol dengan teman lain, wong selama ini di kantor aku nyaris kerja sendirian saja.

Kami masing-masing punya smartphone dengan merk berbeda. Amey dengan BB, Budi bawa Nokia, aku pakai Samsung dan Gita baru saja beli Sony Ericcson. Masing-masing tidak mau disebut punya hape mahal. Malah kami berlomba “menyombongkan” murahnya ponsel kami itu hehehe…. Gak musim lagi pamer hape keren, apalagi kalau cuma bisa buat telpon, sms, chatting dan main game :D


Nop 16 2011

Pejabat Wajib Naik Busway!

Terlepas dari berbagai kekurangan sistem transportasi busway (Transjakarta), aku masih lebih suka menggunakan transportasi umum itu dibandingkan yang lain, seperti taksi (mahal), atau angkot/kopaja yang hobinya ngetem dan kebut-kebutan. Tentu saja, busway bukannya tanpa kekurangan, banyak malahan. Kadang supirnya juga ngebut (heran, padahal dan punya jalur sendiri dan gak pakai setoran), perawatan bis yang tergolong minim (AC, tempat duduk dan lantai), serta halte busway yang ala kadarnya (udah sempit, pintu ditutup, kipas dimatikan).

Kekurangan paling mengganggu buatku adalah tidak jelasnya jadwal keberangkatan busway serta kurangnya informasi. Okelah, aku bisa maklum saat bis datang terlambat di jam sibuk, pasti kena macet. Tapi alangkah baiknya kalau ada informasi ke calon penumpang tentang kondisi itu. Tidak cukup hanya dengan menempel tulisan di loket “Maaf, bus lama”. Kadang, sudah lama nunggu, mendadak ada bis lewat begitu saja. Padahal semua penumpang sudah cukup lega melihat ada bis datang, tapi kembali kecewa saat bis itu berlalu. Sangat sering aku mendengar keluhan para penumpang yang tidak sabar menunggu bis.

Kemarin sempat berpikir, kok gak ada penjelasan petugas. Aku tidak menyalahkan para petugas penjaga halte ataupun penjual tiket. Itu bukan tanggung jawab mereka. Aku kecewa dengan pihak manajemen busway yang sepertinya terlalu cuek dengan hal ini. Jadi kepikir, kalau ada pejabat negara (syukur-syukur Mentri atau anggota DPR/DPRD) yang naik busway dan merasakan ketidakpastian waktu tunggu busway, apa yang akan mereka lakukan. Mungkin mereka akan mengomel lebih keras, langsung kontak sana-sini, dan mungkin juga mendamprat pimpinan manajemen busway ini, langsung atau tidak langsung.

Ah, andai saja para pejabat itu mau meluangkan waktu untuk naik angkutan umum di Jakarta, saat mereka menjabat, mungkin kondisi transportasi umum bisa membaik. Andai satu hari, misalnya Jumat, para pejabat negara diwajibkan bekerja menggunakan transportasi umum, apa jadinya? Mungkin banyak hal yang akan dibenahi. Lha wong, katanya, kalau ada kunjungan pejabat ke daerah tertentu, otomatis jalan dan sarana lainnya diperbaiki hehehe … Fenomena apa ini?

Oh ya, kemarin ada yang mengusulkan agar angkot dan bajaj dihapuskan. Aku kurang suka naik bajaj, jadi gak masalah. Tapi setiap hari aku naik angkot. Aku bisa menghindari kopaja dengan beralih ke busway, tapi angkot belum ada alternatifnya. Jadi aku masih bergantung pada angkot yang jauh lebih murah dibanding taksi atau ojek. Tapi harus aku akui, banyak perilaku supir angkot yang menjengkelkan — ngetem sampai bikin macet, kebut-kebutan, berantem sesama sopir dsb. Jumlah angkot juga terlalu banyak, setidaknya itu yang kulihat di jalur Tanah Abang - Kebayoran Lama.

Tapi tetap aku belum setuju kalau angkot dihapuskan. Cukup dikurangi dan ditertibkan. Ada baiknya para pejabat juga dianjurkan naik angkot saat berangkat kerja, termasuk tokoh/pengamat yang mengusulkan penghapusan angkot itu heheheh…


Nop 14 2011

KRL Jakarta-Depok

Harga rokok Rp 6 ribu. Ongkos ojek dr stasiun ke kantor Rp 15 ribu. Harga tiket kereta api Bogor-Jkt cuma Rp 1000. Kasihan kereta api! (twit dari Goenawan Mohamad @gm_gm)

Membaca twit dari tokoh jurnalis senior ini membuatku ingin bercerita soal pengalaman naik KRL Jakarta-Depok akhir bulan lalu. Gak istimewa sih, cuma pengen cerita aja.

Aku dah istriku sama-sama penggemar kereta api. Kalau mudik, kami lebih suka naik kereta api dibanding naik bis atau mobil pribadi. Lebih nyaman dan santai, menurutku, tentunya bukan kelas ekonomi. Tapi karena kami baru sekali naik KRL arah Jakarta-Bogor, jadi kami ragu untuk naik kereta waktu harus ke Depok. Yang kami tahu cuma naik bis, itupun harus sok pede, karena kami sama-sama belum pernah ke Depok. Jadi hari pertama kami berangkat dengan bis non AC (Grogol - Depok) dengan tiket 2500/orang, dan pulangnya kami nyobain bis AC (Depok - Grogol) dengan tiket 6000/orang.

Di hari kedua, karena istri mengikuti pelatihan dua hari, kami mencoba untuk naik KRL. Alasanya sederhana: ada stasion di kampus UI, jadi lebih mempermudah. Selain itu aku juga pengen punya pengalaman naik KRL, karena sangat jarang aku naik KRL di Jakarta. Istriku setuju, dan pagi-pagi kami menuju stasiun Cawang. Beli tiket Commuter Line seharga 6000/orang, gak mahal lah, sebanding dengan bis AC. Waktu tunggu (mungkin karena bukan hari kerja) juga tidak terlalu lama, sama saja dengan waktu kami menunggu bis di perempatan Slipi. Perjalananpun terasa nyaman karena masih sepi, dan tentu saja, lebih cepat. Memuaskan.

Waktu pulang, kami memutuskan untuk naik KRL lagi. Kemarin kami naik bis dan terjebak macet cukup parah di Fatmawati hingga Sudirman. Dengan KRL, yang seharusnya lebih cepat, kami tinggal pindah dengan busway di Halte Stasiun Cawang, dan seharusnya juga lebih cepat. Seperti pagi harinya, aku memilih tiket Commuter Line. Tapi oleh petugas kami disarankan naik yang ekonomi saja, karena ada keterlambatan dan dia tidak bisa memastikan kapan KRL bisnis itu akan datang. “Lha wong itu yang ekonomi aja dari tadi gak berangkat-berangkat“, katanya. Berhubung minim pengalaman soal KRL, aku nurut aja apa kata petugas.

Aku serahkan uang sepuluh ribu untuk 2 tiket ekonomi, dikembalikan 7 ribu. Saat aku berbalik dari loket, kok sepertinya aku cuma memegang 1 tiket. Pikirku, pasti petugas tiket mengira aku hanya membeli 1 tiket, wong kembaliannya 7 ribu, berarti harga tiket 3 ribu. Dengan pedenya aku melangkah kembali ke loket, sambil antri tentunya, dan meminta membeli satu tiket lagi. Lho… kok harga tiket cuma 1500?

Wah, berarti tadi bukan petugas yang salah. Dia memang tahu aku beli tiket untuk dua orang. Aku aja yang lemot, karena berpikir harga tiket ekonomi setengah dari harga tiket bisnis. Ternyata harga tiket ekonomi “hanya” 1500. Ah, sudahlah, aku gak mau mempermasalahkan. Aku hanya masih geleng-geleng dengan harga tiket yang murah itu. Pantesan saja KRL tetap berjubel penumpangnya.

Nb: nulis sambil melamun, andai saja kondisi KRL (dan perkeretaapian nasional umumnya) seperti di Jepang, rapi, tertib dan nyaman, termasuk saat antri untuk masuk ke dalam kereta …. kapan ya :-?


Okt 31 2011

Pemuda Pilihan (yang) Tak Peduli Hukum

Di sebuah kampus negeri terbesar dan terbaik, ternyata kedisiplinan tak bisa terbina dengan baik. Mungkin gak semua, hanya oknum saja. Yah, mungkin oknum memang paling pas buat jadi kambing hitam dan menghindari tanggung jawab kelompok.

Sabtu lalu aku ke Depok mengantar istri yang mengikuti seminar di kampus itu. Ini pertama kali aku berkunjung ke sana, kesan pertama yang mengesankan. Banyak pohon dan udara cukup sejuk dan tenang,  memang cocok untuk belajar dan juga beristirahat. Mumpung bawa kamera, aku puas-puasin motret,  kebanyakan sih motret pemandangan dan gedung. Ga berani motret mahasiswi banyak-banyak, daripada didapat istri :D.

Saat mencari kantin  buat makan siang, sampailah aku di kantin fakultas ekonomi. Dari jauh terlihat spanduk “Dilarang bermain kartu” dan “Dilarang merokok“. Dua spanduk yang cukup besar dan mencolok di pintu masuk kantin. Mantap kali pikirku. Aku memang kurang suka dengan asap rokok dan abu bekas rokok.

Namun belum sempat aku memesan makanan, aku harus menghadapi kenyataan yang mengecewakan. Di depanku ada 4 orang asyik bermain kartu sambil merokok. Di bagian lain juga ada satu kelompok lagi. Beberapa orang juga dengan nikmatnya menghisap rokok seusai makan.  Lah, kok gini. Gak mungkin mereka buta huruf, wong buat masuk kampus ini aja harus pintar. Gak mungkin juga spanduk besar dekat pintu masuk itu gak terlihat, jelas besar gitu. Tanpa bermaksud menghakimi, aku cuma mengambil kesimpulan sederhana: mereka tidak peduli dengan peraturan tersebut. Ini membuatku sedikit prihatin, karena terjadi di kampus terkemuka, dilakukan oleh para terpelajar yang nantinya akan memimpin bangsa ini. Ini tidak terjadi di terminal yang pesing ataupun lokalisasi kumuh.

Bermain kartu (apalagi tanpa taruhan) dan merokok bisa dianggap masalah sepele, lagipula itu adalah hak pribadi. Tapi bukan itu masalahnya. Masalahnya adalah adanya peraturan yang dilanggar dan diabaikan, ini jelas fatal. Bagiku, orang yang terlalu mudah mengabaikan aturan sepele pasti tidak akan susah untuk melanggar aturan yang lebih besar. Mereka yang saat muda terbiasa melanggar peraturan, kalau tidak bertobat, akan dengan mudah menjadi koruptor atau penyuap. Berlebihan kah penilaian saya ini? Ataukah saya yang terlalu naif karena meyakini ajaran “barangsiapa setia pada perkara kecil akan setia pada perkara besar”.

Andai memang sebuah larangan atau aturan itu terasa gak masuk akal, bukan berarti kita boleh mengabaikannya. Ajukan keberatan dan usulkan perubahan, bukan dengan sengaja melakukan pelanggaran, apalagi  dengan tidak adanya sanksi yang tegas. Semua itu hanyalah pola pikir koruptor perusak bangsa.


Okt 21 2011

Terima Kasih Sinetron Indonesia!

Waktu kecil hingga remaja, aku disuguhi tontonan Rumah Masa Depan, Jendela Rumah Kita, dan Aku Cinta Indonesia. Beberapa bulan lalu sempat ada “reuni” beberapa tokoh sinetron itu, dan menayangkan beberapa cuplikan sinetron yang ada rasa nostalgia itu bangkit. Meski dialog dan gambar terlihat “cupu”, sederhana namun tetap menarik. Yang jelas, ada kenangan tersendiri dalam sinetron masa kecil itu. Bagus lah pokoknya, dan ada keinginan untuk nonton kembali sinetron-sinetron tersebut. Ada yang punya?

Tapi apakah sinetron masa kecil itu yang membuat aku berterima kasih? Bukan!

Aku berterima kasih pada sinetron-sinetron masa kini, yang dibuat secara stripping (gak tahu maksudnya apa, pokoknya sering dengar aja kayak gitu) dan diputar nyaris tiap hari. Di prime time pula. Mengapa aku berterima kasih? Karena sinetron-sinetron itulah yang membuat aku malas nonton tivi lagi. Waktu kecil aku malas nonton tivi karena pilihan acara yang terbatas, cuma TVRI yang lebih sering memutar laporan khusus dan acara dokumentasi lainnya (tentu saja bagi anak kecil gak menarik). Munculnya televisi swasta sempat membuat aku banyak menghabiskan waktu di depan tivi dengan tayangan film-film Layar Emas, McGyver, The A Team, drama silat mandarin (To Liong To, Pendekar Rajawali), drama Jepang (Tokyo Love Story, Ordinary People, 101 Proposals dll) hingga produksi lokal seperti Deru & Debu, ataupun Si Doel Anak Sekolahan.

Bagaimana dengan sinetron sekarang? Ah, mendingan matiin tivi aja, atau nonton Spongebob yang diulang-ulang. Gak enak buat diomongin, malah bikin dosa aja ngomongin sinetron jaman sekarang. Tapi kok ya laku … sampai berseri-seri gak ada habisnya. Dialog, tata gambar, cerita maupun kemampuan akting (maaf) kalah jauh ma sinetron masa kecilku. Padahal kan teknologi makin maju, referensi makin banyak, dana juga makin banyak (mungkin). Mungkin gara-gara striping itu … budaya serba instant. Yang membuatku makin prihatin, ketika sinetron ini menduduki rating yang tinggi, sepertinya ini cukup menunjukkan betapa kurang pintarnya masyarakat kita, yang justru makin dibodohi dengan tayangan-tayangan itu. Hiburan???

Tapi aku berterima kasih. Dengan tayangan sinetron yang (belum) layak ditonton, buatku pribadi sih, aku jadi jarang nonton televisi. Mendingan baca buku, browsing di internet dan nulis blog :) Sesekali nonton film di bioskop TransTV atau Big Movies-nya Global TV aja. Jadi ingat perkataan Arswendo di suatu media “Kalau pengen sehat, tonton saja TVRI” :D