Kemarin aku menghadiri acara pernikahan teman gerejaku yang kini merantau di Aceh. Pernikahannya di Bandung, dan aku bela-belain datang karena kami cukup akrab dan aku sendiri merasa banyak berutang budi dengannya selama kuliah dulu. Di acara ini, aku ketemu beberapa kawan lama yang sudah beberapa tahun tidak saling berkomunikasi, karena kesibukan masing-masing, dan juga karena perbedaan tempat. Salah satunya adalah Ical, mantan gembala sidangku, teman akrab, teman seperjuangan jaman kuliah.
“Sekarang masih ngurusin komputer?” tanya Ical. Sudah lama aku tidak ngobrol dengan temanku, teman yang banyak membantuku sewaktu aku kuliah, meskipun dia sendiri tidak merampungkan kuliahnya karena pilihannya sendiri.
“Iya, mau ngurus apa lagi”, jawabku. Aku sendiri berpikir, bidang apa lagi yang akan aku geluti selain programming. Sampai saat ini bidang tersebut masih menyimpan magnet yang membuatku terus melekat, sementara bidang lain masih sebagai selingan, pengisi waktu luang.
“Ya, siapa tahu kamu jualan kopi, hehehe”, kata Ical. Kopi??? Kok bisa terpikir seperti itu? “Kan dulu kamu suka bereksperimen dengan kopi. Pakai garam lah, campur macam-macam lah.”
“Oo… itu.. iya juga. Tapi aku sekarang sudah jarang minum kopi.” jawabku.
Kopi. Salah satu minuman favoritku. Sejak kecil aku sudah suka minum kopi. Namun tidak hanya kopi. Pada dasarnya aku suka minum minuman berasa. Mungkin lebih tepatnya, minuman manis. Mungkin aku termasuk orang yang kecanduan gula
Minuman manis, apapun itu, bagiku seperti cemilan. Hampir setiap saat aku menginginkannya, apalagi saat sore hari, menemaniku nonton tivi, belajar atau refreshing.
Berhubung kondisi ekonomiku yang terbatas, maka jenis minuman yang bisa kunikmati juga terbatas. Makanya aku sering bereksperimen dengan minuman. Teh, kopi, sirup, jahe, tape, tomat, jeruk, asem, gula jawa dan apapun yang bisa kutemukan di dapur rumah kami yang sederhana. Kalau beruntung aku bisa minum susu, coklat, atau minuman tertentu yang biasa dikemas dalam sachet. Karena keterbatasan itulah, makanya aku sering mencampur-campur bahan untuk menjadi minuman, termasuk kopi.
Aku pernah minum kopi dengan gula dan garam, yang berakibat tidak bisa tidur hingga subuh, padahal besok harus mengikuti Ebtanas. Kopi favoritku adalah menggunakan gula jawa, karena menghadirkan rasa yang lebih gurih dibandingkan dengan gula pasir biasa. Tentu saja kopi susu menjadi pilihan yang mewah, karena jarang aku punya susu atau cream. Kopi dengan jahe juga nikmat, hanya saja aku kesulitan untuk membuatnya (bukan sulit, cuma malas saja).
Saat aku merantau (kuliah dan kerja), pilihan beragam jenis kopi bisa kubeli dengan mudah di supermarket. Ada banyak jenis pilihan kopi siap saja dengan berbagai rasa. Hanya saja, ketika tidak ada pilihan lain yang tersedia selain kopi hitam yang murah, disitulah aku mulai bereksperimen kembali. Namun saat ini, aku coba mengurangi porsi kopi yang kunikmati. Tidak setiap hari aku minum kopi, dan dalam satu hari, maksimal hanya satu kali aku minum kopi. Eksperimenku berpindah pada teh, yang sedikit lebih lunak dibanding kopi.
Seperti halnya kopi, aku juga bisa mencampur teh dengan gula jawa, jeruk, jahe, susu atau apapun, selama masih tidak terlalu aneh.
Categories: Pribadi
Tagged: Minuman
“Jadi gimana Mas, buka puasa barengnya kapan?” tanya Budi.
“Besok aja Mas, kan Marta besok dah nyampe.” sahut Iyor. Saat ini Marta sedang pulang kampung.
“Wah, padahal sudah saya bela-belain hari ini ke kantor buat acara ini.” keluh BM.
“Duh, gimana ya, habis bingung nyari waktunya. ” jawabku.
Dua minggu lalu memang sudah sudah aku putuskan buat ngadain acara buka puasa bersama di kantor, sebuah acara rutin tahunan. Tapi hari ini banyak yang gak bisa - Prof, Bang Napi, Marta dan Akank cuti. Aku sendiri harus ke customer. Jadi hari ini batal, rencana mau kuganti besok. Tapi besokpun aku belum tentu bisa.
“Kayaknya tahun ini gak ada bukber, tanggung waktunya. Nanti aja habis libur, jadi acara syawalan.” kataku ke Iyor.
“Syawalan gimana maksudnya?” tanya Iyor bengong.
“Loh, gimana sih? Masak syawalan ga tau?”
“Yang kutahu bulan syawal atau puasa syawal. Tapi acara syawalan ga pernah tuh.”
“Masak sih? Itu lho, acara halal bi halal, diadakan di bulan lebaran.” aku coba jelaskan.
“Hehh, halal bi halal?”
“Budi, tahu acara syawalan gak?” tanyaku.
“Enggak. Aku tahunya bulan syawal.” jawb Budi, yang sejak kecil di Jakarta.
Hmm … Sepertinya syawalan cuma ada di Jawa. Langsung ingatanku melayang ke masa kecil. Dulu, Lebaran itu milik semua umat, setidaknya di daerah sekitarku. Meskipun tidak ikut puasa, umat nonmuslim turut serta merayakan Lebaran. Keluargaku ikut berkeliling, berkunjung ke para tetangga dan mengucapkan selamat lebaran, meskipun kami tidak merayakan Idul Fitri. Kami juga menerima ucapan selamat, “Sugeng Riyadi”.
Ya, istilah Sugeng Riyadi - Selamat Hari Raya - lebih akrab di telingaku daripada Selamat Idul Fitri. Mirip-mirip dengan istilah Happy Holiday atau Season Greetings sebagai ganti Merry Christmas.
Hanya saja, waktu aku bersama teman-temanku ujung atau silaturahmi ke tetangga, aku sekedar mengucapkan salam Sugeng Riyadi, gak sampai sungkem dan mengajukan permintaan maaf dan segala macam.
Selanjutnya, beberapa hari setelah hari H, biasanya di kampung ada acara Syawalan, pentas seni yang tentu saja disertai makan-makan. Dana untuk acara ini dikumpulkan dari seluruh warga dan dana kas desa. Kadang ada juga lomba untuk anak-anak dan remaja masjid, terkait dengan acara ini. Tetap saja acaranya bersifat umum, untuk semua warga, tanpa menghapus nuansa islami. Namun setidaknya, umat nonmuslim masih nyaman untuk mengikuti acara itu. Yang terpenting adalah rasa kekeluargaan dan kebersamaan warga kampung.
Di sekolahpun seperti itu. Hari pertama atau kedua setelah masuk sehabis libur, biasanya ada acara khusus untuk memperingati Idul Fitri, terbuka untuk semua siswa. Tak lupa acara bermaaf-maafan yang begitu mengular, semua siswa mengantri menyalami para guru yang berbaris. Akrab, tidak terlalu terasa sekat perbedaan agama.
Itu dulu. Entah apakah tradisi itu masih ada atau tidak, karena sudah belasan tahun aku merantau dan jarang mudik saat lebaran. Namun terakhir-terakhir, waktu aku mulai menginjak masa kuliah, sempat ikut acara syawalan di kampung, suasananya sudah sedikit berbeda. Kenetralan acara mulai bergeser. Acara syawalan mulai penuh dengan dakwah, pengajian dan nasyid. Mungkin memang sepantasnya seperti itu, toh ini adalah peringatan untuk hari raya umat muslim.
Namun, sebagai warga kampung, aku kangen saat-saat syawalan yang netral, syawalan yang merupakan tradisi bersama, milik semua, demi mempererat kebersamaan dan kekeluargaan.kebersamaan dan kekeluargaan.
Categories: Budi · Iyor · Sosial Masyarakat
Tagged: agama
“Nampaknya Mas sudah perlu sekretaris, sibuk dah banyak janji.” kata Gita di saat makan siang. “Jadi ada yang ngaturin jadwal dan ngingetin”.
Ah, kalau asekretaris sih gak perlu. Yang kuperlu itu yang bisa bantuin coding. Jadi kalau ke customer, aku yang ngadepin customer, ntar kalau ada perubahan atau error program, tinggal kupandu, dia yang ngerjain. Saat ini aku belum sibuk masalah manajemen meskipun itu menjadi bebanku juga. Aku masih direpotkan dengan pekerjaan pemrograman yang melelahkan.
Aku enjoy dengan pekerjaanku, namun muatan kerja yang ada saat ini sudah tidak masuk akal, diluar kapasitasku. Makanya aku butuh asisten.
“Ya udah, nyari sekretaris dengan syarat bisa coding” kata Gita sambil tertawa.
Categories: Gita
Tagged: Pekerjaan
“Budi, si Lastri kemana?”, tanyaku. Tadi sempat kulihat Lastri keluar kantor bawa tas.
“Ke customer”, jawab Budi.
“Loh, disuruh Amir?” tanyaku, sekalian memanggil Amir.
“Iya Mas”, jawab “Saya lagi gak enak badan, di sana dingin banget ACnya”
“Wah, baru beberapa bulan dah kayak senior aja si Amir ini” kataku sambil tertawa.
“Iya tuh Mas, gak sopan tuh. Mentang-mentang masuknya lebih awal, yang baru join langsung jadi anak buah”, kata Renaldy ikut menimpali.
Yah, selama gak mbosi, gak masalah bagi-bagi tanggungjawab. Yang penting saling kerjasama dengan baik.
Categories: Budi · Renaldy
Tagged: Pertemanan, rekan kerja
“Sebenarnya, ada alasan lain … alasan keluarga”, ungkap Bang Napi, saat aku mencoba menahan dia agar membatalkan rencana pengunduran dirinya. Aku sendiri tidak yakin apakah aku bisa mencegah niat itu, karena toh gak ada yang bisa aku tawarkan. Aku sendiri hanya bisa pasrah.
Setelah berbagai alasan diajukan, akhirnya alasan utama tampil. Alasan keluarga. Lebih tepatnya, campur tangan keluarga, dalam hal ini orangtua. Dia mengungkapkan bahwa orangtuanya prihatin dengan keadaannya, khususnya kondisi ekonomi. Orangtuanya berharap bang Napi bisa sukses, namun saat ini masih belum bisa sesuai dengan harapan orangtuanya. Apalagi adiknya tergolong lebih sukses, — dalam hal materi.
“Aku sendiri gak mempermasalahkan itu, tapi lama-lama gak enak juga kuping ini ndengerinya”, ungkap Bang Napi. Ditambah lagi kondisi kantor saat ini yang sedang sangat sulit, orangtuanya sangat kuatir.
Hmm .. finally, alasan utama muncul. Yah, kalau sudah menyangkut masalah keluarga, masalah jadi simple. Aku ingat Kandar, yang harus “mengalah” karena masalah keluarga. Aku sendiri bisa bertahan karena ngotot, dan sedikit “mengabaikan” keluarga.
Namun apa yang dialami Bang Napi, menambah daftar catatanku tentang campur tangan orangtua dalam kehidupan anak yang seringkali bertentangan dengan keinginan anak tersebut. Dengan dalih “demi masa depan anak”, orangtua sering mendikte jalan hidup sang anak yang seharusnya sudah cukup dewasa untuk menentukan pilihannya sendiri. Setidaknya ada 3 orang yang kukenal, yang harus sedikit menyesal karenan memilih sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya, karena desakan dari orangtua. Saran/anjuran orangtua itu terdengar baik, namun jelas bukan apa yang bisa dinikmati oleh sang anak.
Pertama adalah Elis, adik mantan pacarku. Sebagai anak yang menyukai seni, dia ingin melanjutkan kuliah di bidang kesenian, khususnya seni rupa. Namun orangtuanya yang cukup kolot menganggap kuliah seperti itu tidak ada masa depannya. Berhubung kakaknya dianggap telah sukses dibidang informatika, terbukti dengan bisa bekerja di salah satu bank swasta, maka sang orangtua “memaksa” Elis untuk mengambil bidang informatika juga. Sebagai anak yang patuh, Elispun mengambil kuliah Informatika itu, namun sebenarnya dia tidak bisa enjoy dengan kuliah tersebut. Sering dia mengeluh tidak cocok dengan bidang yang dia tekuni saat ini.
Kedua adalah Adek. Orangtuanya memiliki pandangan bahwa kuliah di jurusan Teknik lebih menjanjikan. Entah darimana mereka mendapat kesimpulan itu, mungkin dari kenalan mereka yang anaknya sukses di bidang teknik atau entahlah. Soalnya kakak Adek sendiri kuliah belakangan, bahkan Adek lulus lebih dahulu, dan sebagian besar saudara mereka juga tidak memiliki pendidikan tinggi. Demi menuruti harapan orangtua inilah, Adek memutuskan mengambil jurusan Teknik meskipun sebenarnya itu bukan bidang yang paling diminatinya.
Adek adalah seorang pekerja keras, perfeksionist bisa dibilang. Jadi meskipun kuliah tidak sesuai bidangnya, dia jalani sebaik mungkin hingga akhirnya bisa lulus cum laude. Namun tetap dia tidak puas. Akhirnya dia kesulitan mencari pekerjaan. Sebenarnya dia lebih tertarik dengan psikologi, atau malah kedokteran hewan atau bidang lain. Tapi bukan teknik, karena dia tidak suka bekerja di lapangan, dia lebih suka bekerja sebagai peneliti, atau di backoffice. Dia menyesal dengan pilihan jurusan yang dia ikuti, namun semua sudah terjadi. Demi memuaskan “keinginan” orangtua.
Ketiga adalah rekan kerjaku juga, Kokom. Dia suka dengan hal-hal berbau manga, tipikal AbG gaul dan sepertinya menyukai seni. Namun orangtuanya meminta dia untuk kuliah tidak jauh dari rumah, entah apa alasannya, aku lupa. Akhirnya dia mengambil kuliah komputer, yang sama sekali tidak diminatinya. Namun karena “dorongan” orangtua satu-satunya, dia nurut dan menjalani dengan baik. Tapi menurutku sih, apa yang dia pelajari tidak bermanfaat bagi dia. Pernah dia ceritakan ini ke aku, yah, aku hanya bisa memberi sedikit semangat, tapi tidak bisa banyak membantu. Masalah Kokom terkait dengan orangtua tidak hanya masalah studi, tapi banyak lagi. Sebagai gadis yang baik, dia berusaha terus menuruti orangtua dan keluarganya, meskipun terlihat jelas waktu dia cerita, dia tertekan.
Aku tidak menyalahkan para orangtua itu. Mereka punya niat yang baik, mereka punya harapan yang bagus. Tidak ada yang mengharapkan anak mereka gagal, pasti setiap orangtua menginginkan anak mereka sukses. Kesuksesan anak adalah kesuksesan orangtua juga (meskipun ini jadi terdengar egois). Tapi bagiku, kesuksesan itu banyak jenisnya. Karir, materi dan kedudukan bukanlah berarti sukses. Pernah gagal juga tidak berarti selalu gagal. Terlihat “biasa-biasa saja” juga belum tentu tidak sukses. Seharusnya setiap orang bisa menemukan jalannya sendiri, apa yang membuat dia bisa menikmati hidup. Segala sesuatu ada resikonya, dan setiap tantangan justru bisa mendewasakan orang tersebut. Please, jangan dikte anak ketika dia sudah punya hak untuk memilih. Kesalahan itu wajar, setiap orang pasti buat salah, asalkan bukan kesalahan yang merugikan orang lain atau melanggar hukum.
Categories: Bang Napi · Kokom · Pribadi · Sosial Masyarakat
Tagged: Kehidupan, Orangtua, resign
“Budi, Iwed kapan habis kontrak?”
“Hmm … tanggal 2 kemarin.”
“Waduh .. udah habis donk? Kirain masih tanggal 20-an, makanya aku santai saja”.
“Terus gimana? Mau diperpanjang 1 bulan lagi?”
“Gak ah, nanti kalau ada kesempatan aku sampaikan ke dia kalau kontraknya tidak diperpanjang lagi.”
Yah, kontrak Iwed memang tidak akan diperpanjang lagi. Terakhir aku perpanjang kontraknya 3 bulan untuk melihat apakah dia masih bisa dipertahankan atau tidak. Salah satu alasanku memperpanjang kontraknya adalah karena dia disiplin, berbeda dengan orang lain. Namun belakangan mulai terlihat jiwa “membangkang”nya. Beberapa kali aku memberi instruksi dan dia memilih melakukan dengan caranya sendiri, yang terbukti tidak efektif. Malah dengan tegas dia menolak beberapa hal seperti mengisi laporan aktivitas dan jadwal piket. Jujur aku tersinggung. Tapi aku mencoba untuk objektif, tidak mengambil keputusan berdasar ketidaksukaanku. Aku mencoba memberi penjelasan tentang pentingnya hal-hal tersebut.
Namun sayang, tidak banyak perubahan yang terjadi. Selain masalah komunikasi, dimana kadang terkesan dia sulit untuk memahami sesuatu, bahkan lebih parah lagi, sering salah menangkap suatu penjelasan, sekarang muncul satu lagi masalah yaitu kerjasama. Bagiku, dalam kerjasama tim, perlu ada arahan yang jelas. Koordinator atau pemimpin tim diperlukan ada semua bisa berjalan dengan benar, serasi dan sesuai harapan. Perubahan atau improvisasi tetap perlu, namun harus sehati. Tidak bisa masing-masing menggunakan cara sendiri di saat strategi sudah diatur. Inilah kerja tim, bukan kerja individual.
Selain itu customer juga mengeluh, karena masalah komunikasi. Seringkali terjadi salah paham, bukan karena tidak memahami atau kurangnya pengetahuan, tapi lebih karena asumsi yang tidak pas, namun sulit diperoleh karena kendala komunikasi. Akibatnya, kadang customer malas untuk menyampaikan problem ke Iwed, karena kuatir adanya salah paham.
Jadi aku putuskan untuk tidak memperpanjang kontrak Iwed lagi, sekalipun dia masih semangat mengerjakan proyek. Namun kebiasaannya untuk bertindak tanpa konfirmasi, sekehendak hatinya selayaknya manajer, membuatku makin yakin untuk tidak memperpanjang kontraknya. Akhirnya waktu untuk menyampaikan itu datang juga, setelah beberapa kali kami tidak ketemu, karena aku sering ke customer.
Malam itu, kebetulan jadwal ke customer dibatalkan karena sudah akan libur panjang. Iwed tiba-tiba datang sore hari, sepertinya habis dari customer juga. Aku tidak harus memanfaatkan waktu ini, sebelum terlambat berhubung sebentar lagi libur panjang. Sore itu dia sedang sholat, aku menunggu sambil membaca koran. Selesai sholat, dia menghampiriku, mungkin dia pikir aku ingin membahas tentang sebuah proyek.
Akhirnya, tanpa basa-basi, kusampaikan mengenai nasib kontraknya. Dia mendengarkan dengan seksama, seperti biasa. Namun mendengar penjelasanku, dia tersenyum getir. Terlihat ada kekecewaan dan kesedihan. Kupikir dia akan marah karena pemberitahuanku mendadak. Namun sepertinya dia bisa memahami alasanku. Dia juga menyadari masalahnya, dan tidak banyak protes. Dia terima keputusanku apa adanya. Justru aku yang jadi salah tingkah, gak tahu lagi mau ngomong lagi.
“Ya saya juga berterima kasih, selama ini sudah dibantu. Dari yang gak bisa jadi bisa, banyak pelajaran yang saya dapatkan”, demikian ungkapnya terakhir kali.
Biar gak makin salah tingkah, aku segera beranjak meneruskan pekerjaanku malam itu.
Categories: Iwed
Tagged: kerja sama, Pekerjaan, resign
“Eh, aku belum laporan ke Mas ya?” kata Budi tiba-tiba.
“Belum, emang apaan?” tanyaku.
“Ya, aku dah punya pacar sekarang?”
“Oh, sama yang dulu?”
“Bukan”
“Yang teman kuliah?”
“Bukan juga, dah lewat itu”
“Terus yang mana?” tanyaku lagi.
“Teman nge-game hehehehe”, jawab Budi sambil senyum-senyum.
“Walah, kayak Gita donk”
Gita juga setelah putus dengan calon tunangannya, tidak lama kemudian langsung pacaran dengan orang yang dikenal dari game online. Dia aktif ikutan game online, sampai suatu saat ada kopdar dari pengguna game tersebut. Nah, dalam kopdar itulah, dia berkenalan dengan seorang pemuda yang datang dari Jogja. Busyet … bela-belain kopdar ke Jakarta dari Jogja.
“Eh, ada yang lebih parah lagi. Datang dari Bali, naik pesawat, habis kopdar, langsung pulang lagi naik pesawat. H ebat ya..” kisah Gita waktu itu.
Hmm … akhir-akhir ini aku cukup geleng-geleng dengan perkembangan game online. Beberapa minggu lalu, di Kompas dimuat tentang komunitas Mafia War Indonesia, yang cukup kompak dan beberapa kali mengadakan kopdar. Anggotanya pun cukup fanatik. Game sudah menjadi pilihan hobi yang sifatnya komunitas, tidak lagi bersifat individual. Lomba-lomba game pun sudah cukup sering diadakan. Gak heran juga, kalau dari sini bisa jadi ajang mencari jodoh pula, 2 rekan kerjaku sudah membuktikannya.
Game, bukanlah hobi favoritku. Aku tidak anti, ya sesekali masih memainkan beberapa game komputer. Waktu SMA aku sering sekali main video game, sampai bela-belain bersepeda belasan kilo hanya untuk ke mal dan main game. Namun setelah mengenal komputer dan internet, dimana pilihan game lebih banyak dan makin bervariasi, justru minatku terhadap game menurun. Pikirku, masih lebih banyak hal yang menarik dari komputer dan internet, selain bermain game.
Categories: Budi · Gita
Tagged: Game, Jodoh, Pacaran